CARA MENINGKATKAN KREATIVITAS GURU


20130317_163826

Para Guru kreatif

Mendengar kata-kata kreatif tentu kita membayangkan sebuah pemikiran yang luar biasa yang muncul secara luar biasa pula. Sering kita membayangkan bahwa berfikir kreatif itu adalah bawaan sejak lahir atau bakat alam yang telah diberikan oleh Tuhan. Sehingga orang biasa tidaklah mungkin memiliki suatu kreativitas. Selain itu, masih kuatnya pandangan negatif orangtua terhadap prospek pekerjaan di industri kreatif (misalnya film, sastra, atau desain grafis) juga membuat banyak anak muda merasa kemampuan kreatif hanya pantas didalami oleh orang-orang tertentu saja

Anggapan tersebut tentunya tidaklah benar. Karena kreativitas tidak selamanya berhubungan dengan tingkat IQ seseorang, namun juga sangat tergantung dari usaha seseorang tersebut dalam mencoba atau bekerja. Banyak ahli psikologi justru mengatakan bawah kreativitas itu bukan muncul dari intusi-intusi orang-orang cerdas ber-IQ tinggi, namun lebih banyak muncul dari orang-orang yang bekerja keras. Thomas Alfa Edison misalnya, ia menegaskan bahawa kreativitas itu 1% inspirasi dan 99% itu kerja keras.

Sejalan dengan hal tersebut Psikolog John Houtzmengatakan bahwa kreativitas tidak terbatas pada kreativitas besar (big ‘C’) yang sifatnya mahakarya dan revolusioner, seperti lukisan Da Vinci atau lampu Edison. Ada pula yang namanya kreativitas kecil (litle ‘c’), yaitu kelihaian atau kecerdikan yang dapat kita gunakan untuk memecahkan masalah sehari-hari. Houtz juga menekankan bahwa kreativitas bukanlah suatu bakat yang dianugerahkan sejak lahir, melainkan sesuatu yang harus diusahakan dengan kerja keras; Menurutnya, orang-orang kreatif adalah mereka yang memiliki kedisiplinan untuk terus menciptakan ide-ide baru dan ketekunan untuk mewujudkan ide-ide mereka.

Mengenai kreativitas ini pada tahun 2008 lalu Majalah Scientific American Mind Edisi bulan Juni-Juli  menurunkan liputan mengenai diskusi panel para ahli yang membahas mengenai kreativitas ini, berikut beberapa tips sederhana untuk mengembangkan kreativitas anda. Dalam diskusi panel itu Robert Epstein seorang psikolog dari Amerika memberikan empat tips cara untuk melatih kreativitas kita, yaitu:

A.   Capturing.

Jangan biarkan ide satupun yang terlewatkan, manusia mempunyai sifat pelupa. Dari itu biasakan diri untuk mencatat. Mencatat Ketika ada ide terlintas di pikiran Anda, catatlah di HP, atau kalau Kita sedang di tempat kerja tulislah di buku penting. Membawa HP ketempat tidur adalah cara cerdas agar ide-ide Kita tidak hilang begitu saja. Ketika akan tidur atau setelah tidur, otak dalam kondisi gelombang theta, waktu ini sangat berpotensi timbulnya ide-ide kreatif. Sangat baik sekali, Kita meluangkan waktu barang 15 menit  tiap hari cukup duduk santai atau melakukan aktivitas kesukaan Kita untuk mengumpulkan ide-ide dan membawa catatan. Baca lebih lanjut

Software PKG


pembinaan-dan-pengembangan-guruTeman guru yang berbahagia. Mulai tahun ini (Januari 2013) kita secara efektif akan melaksanakan Permenpan No. 16 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Dalam peraturan baru ini Penilaian Angka Kredit Guru dilakukan dengan cara yang baru pula. Kalau dulu Penilaian angka lebih banyak didasarkan pada kelengkapan dokumen-dokumen yang dimiliki oleh seorang guru, pada peraturan ini penilaian angka kredit akan lebih berfokus dengan melihat kinerja seorang guru pada saat mengajar.

Oleh karena itu dalam penilaian angka kredit guru diperlukan instrumen untuk dapat menilai kinerja guru pada saat praktik mengajar. Instrumen penilaian kinerja guru ini sudah didesign sedemikian rupa, sehingga saat Kepala Sekolah atau Pengawas melaksanakan penilaian kinerja terhadap seorang guru tidak mengalami kesulitan walaupun indikator yang diamati sangatlah banyak.  Dalam lembar PK Guru, Kepala Sekolah dapat menulis secara manual dan menghitungnya secara manual juga. tetapi jika teman-teman Kepala Sekolah dan Pengawas atau guru senior menghendaki menggunakan software yang mempercepat pekerjaan dalam penilaian PK guru berikut saya sajikan dalam tulisan saya ini.

Dengan menggunakan software ini teman-teman cukup hanya meng-klik setiap indikator yang memenuhi kriteria. Dan nanti nilai kinerja guru akan terhitung secara otomatis. untuk mencoba software ini silahkan DOWNLOAD DI SINI.

Contoh soal Ujian PLPG 2012


Berdasarkan informasi yang saya terima banyak sekali rekan-rekan guru yang mengalami stress saat harus menjalani PLPG. Diantara mereka kebanyakan adalah rekan guru yang sudah berusia lanjut. Namun tidak jarang juga rekan-rekan guru yang masih relatif muda juga  ada yang mengalami stress saat mengikuti PLPG. Sebenarnya PLPG adalah mudah dijalani, namun ketakutan untuk tidak lulus, rasa malu jika tidak lulus dan berbagai aksi baru yang harus dijalani rekan guru tentu menjadi beban tersendiri.

Bagaimana sih contoh-contoh soal pada saat ujian PLPG?

Berikut saya lampirkan contoh-contoh soal  Ujian PLPG bagi sertifikasi guru tahun 2012. Bagi rekan-rekan guru yang masih membutuhkan contoh-contoh soal ujian PLPG dapat DOWNLOAD DI SINI.

  1. Contoh soal Uji Kompetensi Profesional
  2. Contoh soal Uji Kompetensi Pedagogis
  3. Contoh soal Uji Kompetensi sosial
  4. Contoh soal Uji Kompetensi Kerpibadian

Semoga bermanfaat .

Kisi-kisi Ujian tertulis PLPG 2011


Teman-teman guru yang sekarang sedang mengikuti PLPG tentu sangat membutuhkan kisi-kisi ujian tertulis PLPG. Karena dengan bisa mengerjakan Ujian tertulis tersebut, teman-teman tentu berharap bisa lulus PLPG sehingga bisa tercatat sebagai guru yang profesional. Dan yang lebih penting lagi adalah bisa menerima Tunjangan Sertifikasi yang konon jumlahnya sama dengan gaji. Wah siapa yang tidak ingin, kalau begitu gaji teman-teman guru bisa menjadi 2 kali lipat. Okelah kalau begitu tidak perlu basa-basi lagi berikut saya ikut menyebarkan informasi dari saudara tunas63 tentang kisi-kisi Ujian Tertulis PLPG. SILAHKAN DOWNLOAD DI SINI

Regional District Workshop


UNS, 27 Juni 2011

Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan secara komprehensip dan berkelanjutan di Indonesia dilaksanakanlah Regional District Workshop mulai tanggal 27 Juni s.d 11 Juli 2011. Kegiatan ini mempertemukan antara Universitas dengan pemerintah Daerah untuk memikirkan bersama dalam pengembangan kualitas pendidikan di daerah.

Kegiatan pertama dilaksanakan di Universitas Negeri Surakarta (UNS) dengan diikuti oleh perwakilan pemerintah daerah kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Temanggung, Sragen, Karanganyar, Surakarta, Sukoharjo. Adapun dari pihak universitas yang datang adalah dari UNS sendiri, UMS, IAIN Walisongo dan UNY.

Kegiatan kedua, dilaksanakan di UKSW Salatiga. Dalam kesempatan tersebut dihadiri oleh kabupaten Wonosobo, Klaten, Batang, Salatiga, Grobogan, Magelang, Semarang, Blora dan Batang. Adapun universitas yang hadir adalah UNSIQ wonosobo, Untid Magelang, IAIN Walisongo Semarang dan UKSW sendiri.

Dalam kesempatan ini dihasilkan berbagai kesepakatan antara lain:

  1. Penngkatan mutu pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan Perguruan Tinggi
  2. Pihak Perguruan Tinggi siap mendukung program-program pemerintah daerah yang ditujukan untuk peningkatan mutu pendidikan.
  3. Pemerintah daerah akan memberikan alokasi anggaran untuk peningkatan mutu pendidikan.
  4. Jadwal dan anggaran akan diatur lebih lanjut melalui komunikasi intensif antar perguruan tinggi dengan pamerintah daerah.

TOT WIAL untuk para Dosen


Universitas Negeri Yogyakarta, 16 – 20 Mei 2011

TOT What Is Active Learning untuk Para Dosen LPTK se-Jateng dan DIY

Pembelajaran aktif atau lebih dikenal dengan PAKEM sudah lama dilaksanakan di Jenjang Pendidikan Dasar utamanya di TK dan di SD. Di Indonesia program ini sudah dimulai sejak tahun 1999. Namun demikian, gema PAKEM belumlah menyentuh pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Pada Jenjang Pendidikan sekolah menengah pertama (SLTP) baru sekitar tahun 2006 mulai dikenalkan. Bahkan di jenjang pendidikan sekolah menengah atas boleh dibilang sampai pada saat ini belum juga ada implementasinya.
Sebenarnya di lingkungan Perguruan Tinggi sudah lama di kenalkan akan PAKEM ini. Namun semua orang tentu maklum, jika di Perguruan Tinggi lebih banyak dikaji pada tataran teori.

Berdasarkan pengalaman, ternyata PAKEM tidaklah mudah diimplementasikan begitu saja setelah para calon guru menerima teori. Pada saat mereka melakukan PPL di sekolah mahasiswa lebih banyak “meniru” perilaku dosen pada saat mengajar mereka. Menyadari hal tersebut  maka pada tanggal 16 – 20 Mei 2011 bertempat di Universitas Negeri Yogyakarta para dosen LPTK se DIY dan Jawa Tengah menyelenggarakan Pelatihan untuk Pelatih WIAL (What Is Active Learning).

Dengan pelatihan ini diharapkan selain memahami hakekat PAKEM (pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan), para dosen juga bisa memberikan contoh implementasi pembelajaran yang PAKEM dalam memberikan mata kuliah maupun memberikan contoh mengajar di dalam kelas.

 

New Learning Environment: Electronic & Mobile-Learning


Jakarta, 4-6 Fabuari 2011

Png Bee Hin

Sebuah perkembangan baru di dunia pendidikan yang sangat luar biasa dalam pemanfaatan teknologi informasi. Setelah sebelumnya dunia pendidikan dibuat terang dengan dengan e-learning, kini ada media yang sangat canggih, murah dan sebenarnya sudah dimiliki oleh masyarakat luas sejak decade 1990-an, yaitu handphone yang bisa digunakan untuk proses pembelajaran. Begitulah kata Png Bee Hin CEO Learning and Development Reasources (LDR) Pte Ltd dari Singapura dalam acara ITCEE (International Teachers Conference and Education Exhibition)

Perkembangan Handphone sekarang demikian cepat, sehingga yang dulunya hanya merupakan alat “panggil” sekarang menjadi teknologi multimedia dengan banyak fasilitas. Mulai dari fasilitas telephone, kamera, radio, music, bahkan juga dilengkapi dengan fasilitas internet dan GPS. Perkembangan handphone yg demikian canggih sehingga orang sering menyebut dengan “smart phone”, karena piranti  ini demikian lengkap dan cerdas untuk mencukupi kebutuhan informasi dan hiburan bagi panggunanya. Baca lebih lanjut

Implementasi Konstruktivistik dalam Pembelajaran


Temanggung, 19-21 Desember 2010.

Teori belajar  konstruktivisme menekankan bahwa belajar adalah proses aktif siswa untuk mengolah informasi baru berdasarkan pengalaman yang telah dimilikinya sebelumnya.  Dalam proses pembelajaran, siswa harus mendapatkan penekanan, aktif  mengembangkan pengetahuan mereka, dan bertanggung jawab terhadap hasil belajar. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.

Jean Piaget, Lev Vygotsky dan Jerome Bruner merupakan tokoh dalam pengembangan konsep konstruktivisme. Mereka merupakan peletak dasar paham konstruktivisme dengan kajiannya bertahun-tahun dalam bidang psikologi dan perkembangan intelektual anak. Piaget (1886-1980) adalah seorang ahli psikologi Swiss, yang mendalami bagaimana anak berpikir dan berproses yang berkaitan dengan perkembangan intelektual. Piaget menjelaskan bahwa anak memiliki rasa ingin tahu bawaan dan secara terus menerus berusaha memahami dunia sekitarnya. menurut Peaget, siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan tidak statis tetapi secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman-pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodivikasi pengetahuan awal mereka. Baca lebih lanjut

Kompetensi Dasar Guru sebagai Agen Pembelajaran (Implementasi dari Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen)


(Disajikan dalam workshop “Bedah Profesionalisme guru” pada 7 Maret 2010 di Wonosobo)

Masalah yang terus menjadi masalah dalam dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran siswa kurang di dorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan sistematis. Proses pembejaran lebih diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menghafal informasi. Otak siswa dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi tersebut dan tidak berupaya untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya ketika peserta didik kita lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, tetapi miskin dalam aplikasi.

Kenyataan ini berlaku untuk semua mata pelajaran. Mata pelajaran sains tidak dapat mengembangkan kemampuan anak untuk berpikir kritis dan sistematis, karena strategi pembelajaran berpikir tidak digunakan secara baik dalam proses pembelajaran. Mata pelajaran agama, tidak dapat mengembangkan sikap yang sesuai dengan norma-norma agama, karena proses pembelajaran hanya diarahkan agar siswa bisa menguasai dan menghafal materi pembelajaran. Mata pelajaran bahasa tidak diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, karena yang dipelajari lebih banyak bahasa sebagai ilmu bukan sebagai alat komunikasi. Anak hafal masalah perkalian dan pembagian, tetapi mereka bingung berapa harus membayar manakala ia disuruh membeli 2,5 kg telur, dengan harga satu kilogram Rp 12.500,-; Anak juga hafal langkah-langkah berpidato, tetapi mereka bingung ketika mereka disuruh bicara di muka umum. Gejala-gejala seperti ini merupakan gejala umum dari hasil proses pendidikan kita. Baca lebih lanjut

Pengertian Belajar


Ada beberapa pendapat yang dikemukakan tentang hakekat/pengertian belajar antara lain:

a. Menurut Morgan (Whandi: 2009) belajar didefinisikan sebagai setiap perubahan   tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil pengalaman Definisi ini. Mencakup tiga unsur, yaitu: (1). Belajar adalah perubahan tingkah laku, (2). Perubahan tersebut terjadi karena latihan atau pengalaman. Perubahan yang terjadi pada tingkah laku karena kedewasaan bukan belajar, dan (3). Perubahan tersebut harus relatif permanen dan tetap ada untuk waktu yang cukup lama.

b.  Menurut Snelbecker (Whandi: 2009) menyimpulkan devinisi belajar sebagai berikut:   (1) Belajar harus mencakup tinglah laku. (2) Tingkah laku tersebut harus berubah dari tingkat yang paling sederhana sampai yang kompleks. (3) Proses perubahan tingkah laku tersebut harus dapat dikontrol sendiri atau dikontrol oleh faktor-faktor eksternal.

c. Menurut Gagne (Whandi: 2009) Belajar adalah suatu proses dimana suatu organisma berubah tingkah lakunya sebagai akibat  pengalaman Dari pengertian tersebut terdapat tiga atribut pokok atau ciri utama belajar, yaitu: proses, perilaku, dan pengalaman, dengan pengertian sebagai berikut Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: