KISI-KISI US/M SD DAN MI TAHUN 2016


Alhamdulillah Kisi-kisi US/M SD dan MI Tahun 2016 sudah keluar. Kisi-kisi ini merupakan irisan antara kurikulum 2006 dan kurikulum 2013. Mari kita persiapkan sesegera mungkin terutama bagi sekolah yang menjalankan Kurikulum 2013, karena tahun ini adalah tahun pertama kali kita melaksanakan Ujian Sekolah.

Tidak perlu lama-lama silahkan download di sini:

  1. Peraturan KaBalitbang tentang kisi-kisi USM.
  2. Kisi-kisi US/M tahun 2016

CARA MENINGKATKAN KREATIVITAS GURU


20130317_163826

Para Guru kreatif

Mendengar kata-kata kreatif tentu kita membayangkan sebuah pemikiran yang luar biasa yang muncul secara luar biasa pula. Sering kita membayangkan bahwa berfikir kreatif itu adalah bawaan sejak lahir atau bakat alam yang telah diberikan oleh Tuhan. Sehingga orang biasa tidaklah mungkin memiliki suatu kreativitas. Selain itu, masih kuatnya pandangan negatif orangtua terhadap prospek pekerjaan di industri kreatif (misalnya film, sastra, atau desain grafis) juga membuat banyak anak muda merasa kemampuan kreatif hanya pantas didalami oleh orang-orang tertentu saja

Anggapan tersebut tentunya tidaklah benar. Karena kreativitas tidak selamanya berhubungan dengan tingkat IQ seseorang, namun juga sangat tergantung dari usaha seseorang tersebut dalam mencoba atau bekerja. Banyak ahli psikologi justru mengatakan bawah kreativitas itu bukan muncul dari intusi-intusi orang-orang cerdas ber-IQ tinggi, namun lebih banyak muncul dari orang-orang yang bekerja keras. Thomas Alfa Edison misalnya, ia menegaskan bahawa kreativitas itu 1% inspirasi dan 99% itu kerja keras.

Sejalan dengan hal tersebut Psikolog John Houtzmengatakan bahwa kreativitas tidak terbatas pada kreativitas besar (big ‘C’) yang sifatnya mahakarya dan revolusioner, seperti lukisan Da Vinci atau lampu Edison. Ada pula yang namanya kreativitas kecil (litle ‘c’), yaitu kelihaian atau kecerdikan yang dapat kita gunakan untuk memecahkan masalah sehari-hari. Houtz juga menekankan bahwa kreativitas bukanlah suatu bakat yang dianugerahkan sejak lahir, melainkan sesuatu yang harus diusahakan dengan kerja keras; Menurutnya, orang-orang kreatif adalah mereka yang memiliki kedisiplinan untuk terus menciptakan ide-ide baru dan ketekunan untuk mewujudkan ide-ide mereka.

Mengenai kreativitas ini pada tahun 2008 lalu Majalah Scientific American Mind Edisi bulan Juni-Juli  menurunkan liputan mengenai diskusi panel para ahli yang membahas mengenai kreativitas ini, berikut beberapa tips sederhana untuk mengembangkan kreativitas anda. Dalam diskusi panel itu Robert Epstein seorang psikolog dari Amerika memberikan empat tips cara untuk melatih kreativitas kita, yaitu:

A.   Capturing.

Jangan biarkan ide satupun yang terlewatkan, manusia mempunyai sifat pelupa. Dari itu biasakan diri untuk mencatat. Mencatat Ketika ada ide terlintas di pikiran Anda, catatlah di HP, atau kalau Kita sedang di tempat kerja tulislah di buku penting. Membawa HP ketempat tidur adalah cara cerdas agar ide-ide Kita tidak hilang begitu saja. Ketika akan tidur atau setelah tidur, otak dalam kondisi gelombang theta, waktu ini sangat berpotensi timbulnya ide-ide kreatif. Sangat baik sekali, Kita meluangkan waktu barang 15 menit  tiap hari cukup duduk santai atau melakukan aktivitas kesukaan Kita untuk mengumpulkan ide-ide dan membawa catatan. Baca lebih lanjut

Tips Mengatasi Rasa Minder Saat Menjadi Trainer


Menjadi seorang trainer atau nara sumber dalam sebuah pelatihan bukanlah hal yang sulit. Hal tersebut sebenarnya materi pelatihan biasanya sudah dikuasai terlebih dahulu sebelum peserta pelatihan datang. Namun demikian yang paling sulit adalah menguasai audien saat pelatihan berlangsung. Bagaimana mengkondisikan seluruh audien untuk dapat fokur kepada kita selama kita menyajikan materi. Yang lebih penting lagi bagaimana semua audien tune in dengan materi yang kita sajikan.

img_10992Penguasaan audien merupakan 50% keberhasilan nara sumber saat membawakan sesi. Banyak para triner pemula menanyakan kepada saya, “bagaimana mengatasi rasa minder saat menyajikan materi pelatihan?’. Hal tersebut akan terasa lebih berat lagi apabila beberapa audien merupakan teman senior atau pejabat yang lebih tinggi posisinya kita. Sebenarnya hampir semua nara sumber pada awalnya merasakan hal demikian.

Berikut saya sajikan beberapa tips mengatasi rasa minder saat menjadi nara sumber di hadapan umum:

  1. Sebelum pelatihan anda harus membekali PIM3, yaitu Performent (silahkan perpenampilan yang menarik, tapi tidak mencolok); Icebreaker (kuasai beberapa icebreaking atau energizer); Materi (anda harus menguasai materi pelatihan); Media (kuasai beberapa media seperti power poin dan papan tulis); dan Metode (rancang metode pelatihan yang membuat peserta senang).
  2. Datanglah lebih awal sebelum pelatihan/ seminar dimulai  dan tataplah setiap orang yang memasuki ruangan. Hal ini akan menguatkan mental anda, karena posisi anda sudah menang dan secara psikologis anda lebih dahulu menguasai tempat pelatihan. Ibarat pemain sepak bola anda adalah sebagai tuan rumahnya.
  3. Jika ditemui salah satu peserta atau beberapa peserta adalah orang yang anda pandang sangat senior atau lebih pinter dari anda, maka sekalian saja menfaatkan orang ybs untuk membantu sesi anda tersebut. Jangan malu-malu anda bilang kepada orang ybs untuk ijin menyajikan dan mohon bantuannnya jika nanti ada kesulitan. Dengan begitu anda akan merasakan beban anda berkurang 50%. Selanjutnya terserah anda untuk mengoptimalkan sesi.
  4. Sebagai pemula jangan hadir di ruangan pada saat para audien sudah memenuhi ruangan. Hal ini anda akan menjadi pusat perhatian pada waktu yang bersamaan. Tentu bagi pemula ini merupakan beban mental yang laur biasa berat, bisa-bisa anda sudah kalah sebelum bertanding.
  5. Pada saat nama anda dipanggil oleh MC bahwa pelatihan akan segera dimulai dengan pembicara adalah anda, maka jangan segera memasuki arena yang telah disiapkan. Saat itulah anda akan menjadi pusat perhatian lagi. Tenangkan diri anda, minumlah beberapa teguk air yang telah disediakan terlebih dahulu. Baru secara perlahan tapi pasti anda memasuki arena yang telah dipersiapkan untuk anda memberikan pelatihan.
  6. Bicaralah secara tenang, perlahan dan tidak tergesa-gesa. Dengan berbicara terlalu cepat, selain tidak mudah dipahami akan membuat anda semakin gugup.
  7. Jika ada pertanyaan dari peserta yang sulit dan anda tidak bisa menjawab, silahkan beri kesempatan kepada audien yang lain untuk menjawabnya. Saat para peserta yang lain berusaha memberikan jawaban, anda bisa memikirkan jawaban yang tepat dengan menyaring beberapa pendapat peserta yang baik.

Selamat mencoba, jika ada pertanyaan berkaitan dengan teknik memfasilitasi atau menjadi trainer silahkan berikan comment pada tulisan ini. Pasti akan saya berikut jawaban. Terima kasih

 

Pengelolaan Kelas Teknologi Terbatas Model Kelompok Kolaboratif


Deskripsi:

Setiap tim kecil bertanggung jawab untuk memberikan peran kerja dan kontribusi untuk terciptanya sebuah produk kreasi bagi seluruh kelas. Setiap tim tidak melakukan hal yang sama di saat yang sama, namun melakukan sesuatu yang berbeda untuk ikut berperan dalam terciptanya sebuah produk yang disusun oleh seluruh tim (tim besar) – pada prinsipnya, yang dilakukan adalah pembagian kerja.

Contoh di bawah ini menunjukkan cara bagaimana menciptakan sebuah leaflet (newsletter). Setiap rantai dalam jaring/susunan kerja ini adalah topik tugas untuk setiap tim kecil. Peran siswa juga dapat dirotasi di antara tim (sehingga setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk menulis, mengambil foto, edit, menggunakan komputer, dsb).

kelompok kolaboratifContoh: Leaflet Kelas

Seluruh kelas membuat sebuah leaflet mengenai topik khusus (misalnya, air bersih di lingkungan kita). Siswa dibagi ke dalam beberapa tim (seperti yang terpapar di bawah) dan setiap tim harus melakukan tugas-tugas tertentu yang berkontribusi pada penyusunan leaflet secara keseluruhan. 

  • Tim Fotografi: Mengambil foto air bersih, air kotor, pembuatan air minum, pengambilan air dari sumber air, dsb.
  • Tim Penulis: Tim-tim ini (harus ada lebih dari satu tim) yang menulis isi – persediaan air bersih, masalah curah hujan, pembuatan air minum, dsb.
  • Tim Editor: Tim ini mengedit isi yang ditulis. Mereka dapat mengirimkan hasil editing ke tim lain (selain Tim Penulis) untuk revisi lebih lanjut.
  • Tim Artistik: Membuat diagram, grafik, dan karya-karya seni lain untuk menjelaskan tulisan secara visual.
  • Tim Layout Komputer: Mereka mengumpulkan produk dari tim lain dan menyusunnya di komputer, menghasilkan hasil akhir dari leaflet yang siap dipublikasikan.

 

Model Stasiun Belajar


Model stasiun belajar  mendemonstrasikan satu cara bagaimana menggunakan komputer untuk mendukung proses pembelajaran, dimana para  Siswa bekerja dalam tim, berotasi untuk menggunakan beberapa pusat (stasiun) pembelajaran multi-fungsi, dimana salah satunya adalah stasiun komputer. Di saat mereka ada di dalam pusat atau stasiun pembelajaran, mereka dapat mengumpulkan apa yang dapat mereka peroleh dari seperangkat sumber daya tertentu. Setiap stasiun fokus pada teknologi, ketrampilan, atau tipe sumber daya yang berbeda-beda.

stasiun belajarMisalnya, apabila kita bermaksud untuk mencari informasi mengenai asal-muasal dari satu bangunan bersejarah, salah satu stasiun dapat mencetak sumber-daya informasi yang dapat dibaca oleh siswa (artikel surat kabar); stasiun lain mungkin melibatkan siswa untuk mengambil foto dari material lokal/yang ada yang dahulu digunakan untuk mendirikan bangunan tersebut (batu granit, semen, dsb), dan di stasiun ketiga – yang mungkin menjadi satu-satunya stasiun komputer – siswa dapat mentransfer foto-foto mereka dari kamera HandPhone atau kamera digital ke dalam komputer. Setiap tim siswa berotasi melalui 3 stasiun yang berbeda sehingga di akhir pelajaran, atau di akhir aktivitas mereka telah melakukan aktivitas yang sama – walaupun tidak secara bersamaan.

Siswa juga dapat memainkan berbagai peran dan tanggung jawab dalam timnya serta menjalankan peran ini di pusat-pusat pembelajaran yang berbeda sehingga setiap siwa memiliki tugas khusus yang harus dipenuhi.

Beberapa peran dalam kelompok yang biasanya dimainkan: Semua anggota kelompok berotasi untuk menggunakan komputer, sebagai berikut:

  • Manager Komputer (Computer Manager)Memastikan bahwa setiap anggota kelompok memiliki kesempatan dan waktu yang sama dalam menggunakan komputer. Tugasnya adalah mengingatkan kelompok untuk menyimpan (save) informasi.
  • Manajer Materi (Materials Manager)Menginformasikan tentang materi apa saja yang tersedia, mengambil materi sesuai kebutuhan, mengembalikannya, dan merapikan stasiun pembelajaran untuk digunakan oleh kelompok berikutnya.
  • Fasilitator (Facilitator)Mendorong semua anggota kelompok untuk berpartisipasi dan mempertahankan alur kegiatan (tetap pada topik yang ditugaskan/disepakati).
  • Penjaga waktu (Time Keeper) Mencatat waktu mulai dan waktu akhir dari aktivitas, mengecek waktu secara periodik, memberi peringatan 5 menit sebelum berakhirnya aktivitas, dan memastikan bahwa kelompok datang dan selesai pada waktunya.
  • Ahli’ Teknologi (Technology Experts)– Kemungkinan memiliki pengetahuan tentang teknologi yang sedang digunakan dan membimbing yang lain untuk menggunakan teknologi secara mandiri (tidak mengerjakannya untuk yang lain).
  • Perekam/Notulen (Recorder) Merekam atau mencatat semua informasi dan ide-ide.
  • Peran Lain  –  Sesuai dengan apa yang disarankan oleh siswa atau guru.

Diagram untuk menyusun/menetapkan stasiun-stasiun pembelajaran: Setiap stasiun atau pusat pembelajaran terdiri atas 5 siswa dan harus ada perintah tertulis tentang sebuah aktivitas atau tugas yang harus dipenuhi siswa. Hanya satu stasiun adalah stasiun komputer. Setelah satu periode waktu tertentu, siswa berotasi untuk pergi ke stasiun lain dan ke satu stasiun yang terakhir. Di akhir aktivitas (setelah satu minggu, 1 periode kelas, atau 1 jam pelajaran, dsb) seluruh siswa telah melalui 3 stasiun tersebut.

2. Model Navigator

Pembelajaran di Kelas dengan 1 Komputer Model Navigator


UntitledKerja Model Navigator dapat dilaksanakan dengan baik apabila kita menggabungkan individu-individu yang memiliki tingkat ketrampilan yang berbeda-beda untuk menggunakan 1 komputer.

Salah satu cara memahami aktivitas ini adalah dengan mengandaikannya dengan perjalanan dengan 1 mobil. Anda tahun tujuan anda dan beberapa orang di dalam mobil akan membantu anda mencapai tujuan. Misalnya, ada satu pengemudi yang menjalankan mobilnya, lalu ada seorang navigator yang memberikan arah atau seorang penumpang yang memberikan informasi lain.

Dalam Model Navigator, cara komputer bekerja dengan cara yang sama seperti sebuah mobil. Bayangkan ada sebuah tim dari 4 siswa yang harus menyusun presentasi Power Point mengenai pulau-pulau terbesar di Indonesia. (Kelompok ini telah melakukan brainstorming (pendaftaran ide) dan ide-ide utama yang ditemukan itu telah ditulis di atas kertas.)

  •  Navigator adalah individu yang paling menguasai komputer. Tanpa menyentuh mouse atau keyboard, ia akan melatih pengemudi untuk menggunakan komputer.  Ia hanya dapat berbicara dan menunjuk saja.
  • Pengemudi adalah individu yang ‘mengemudikan’ komputer. Ia bertanggung jawab untuk menggunakan mouse atau keyboard untuk memasukkan informasi geografis (tentang pulau-pulau terbesar di Indonesia).
  • Penumpang kemungkinan memiliki hanya sedikit pengalaman teknologi. Ia mengamati dan belajar dari navigator dan pengemudi sampai ia mendapatkan gilirannya menggunakan komputer. Ia mengarahkan isi presentasi – membacakan catatan kelompok dan ide-ide/poin-poin utama – yang akan dimasukkan ke dalam presentasi PowerPoint.
  • Wisatawan juga mengamati dan belajar bagaimana menggunakan komputer. Ia memiliki sebuah buku catatan dan pensil untuk menulis semua instruksi dan langkah-langkah yang telah dilakukan untuk menjadi acuan di masa mendatang mengenai penggunaan komputer. Ia juga memberikan saran mengenai isi presentasi.

Seperti telah melakukan sebuah perjalanan panjang, setelah kira-kira 15 menit, peran ini harus dirotasi. Misalnya, penumpang mungkin menjadi pengemudi baru, dimana pengemudi dapat berlaku sebagai wisatawan. Tergantung pada ketrampilan menggunakan ICT, navigator mungkin saja tidak (belum) dapat diganti namun dapat pula dirotasi. Sistem rotasi ini memungkinkan semua anggota tim untuk menggunakan mouse dan keyboard.

 

Strategi Pengelolaan Kelas dengan Teknologi Terbatas


Belajar dengan 1 komputer

Belajar dengan 1 komputer

Postingan berikut adalah materi DALI (Developing Active Learning with ICT) oleh project DBE 2 USAID yang pernah saya ikuti beberapa tahun yang lalu. Namun demikian materi ini masih sangat up to date untuk di share kepada teman-teman guru semua, terutama teman-teman guru SD atau sekolah lanjutan yang masih memiliki teknologi terbatas namun tetap efektif dalam pembelajarannya.

Bagaimana guru dapat menggunakan 1 atau 2 unit computer saja untuk 40 siswa? Bagaimana guru dapat membantu siswa mereka untuk belajar bagaimana menggunakan ICT tanpa harus mengorbankan seluruh waktu belajar untuk pelajaran computer semata? Masalah manajemen atau pengelolaan semacam ini sering menjadi masalah terpenting yang dihadapi para guru pada saat ingin memulai ICT. Padahal, di negara-negara lain di dunia, para guru telah berhasil menggunakan 1 atau 2 unit computer untuk sekelompok besar siswa — dan dapat dikatakan telah berhasil dengan baik.

Pedoman ini memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang sering diajukan para guru. Pedoman ini memperkenalkan 4 model manajemen untuk menyelenggarakan kelas komputer yang terbatas (sebuah kelas yang hanya memiliki 1 sampai 4 komputer untuk 40 siswa). Model-model ini meliputi:

Model-model manajemen di atas juga mendeskripsikan cara-cara yang dapat digunakan sehingga para siswa dapat mengajarkan teman-teman sekelasnya bagaimana menggunakan ICT. Dalam Model Pusat Pembelajaran, siswa bekerjasama untuk mempelajari bagaimana menjalankan sebuah program computer. Dalam Model Navigator, guru dapat mengajarkan tidak lebih dari 5 instruksi kepada wakil-wakil tim. Wakil-wakil ini akan kembali ke tim-nya masing-masing untuk mengajarkannya pada teman-temannya. Dalam Model Para Ahli, guru akan menunjuk seorang siswa yang dianggap ‘ahli’ untuk mengajarkan teman-teman sekelasnya untuk menggunakan komputer sesuai dengan kebutuhan mereka. Akhirnya, Model Kolaboratif menunjukkan bahwa tidak setiap aktivitas perlu terus-menerus melibatkan siswa — dan bahwa penggunaan komputer oleh siswa dapat beragam sesuai dengan tugas yang diberikan.

Mendesign Pembelajaran Matematika yang mengasyikkan


jamUntuk Meningkatkan Kemampuan Siswa menghadapi Soal Cerita tentang Perkalian danPembagian Perkalian dan pembagian merupakan materi yang saling berpasangan. Materi tersebut termasuk materi esensial yang cukup lama proses penanamannya. Bahkan, kalau udah disajikan dalam soal cerita, seringkali para siswa mengalami kesulitan.

Bagaimana guru dapat membelajarkan siswanya dengan tampilan yang berbeda dan menarik. Bu Kresniwiyati, Guru SD Negeri Gombong 5 Kabupaten Kebumen memberikan tips sebagai berikut:

  1. Siapkan sudut pasar di dalam kelas (dus susu, korek api, sabun, dll) dengan jumlah tiap benda minimal 12 bungkus. Beri label harga untuk tiap benda.
  2. Minta anak mengambil 2 benda yang berbeda dengan jumlah lebih dari 1. Misal: sabun mandi 5 bungkus @ Rp 1.800, pasta gigi 2 bungkus @ Rp 4.200
  3. Secara berkelompok siswa menghitung harga barang yang terambil. 5 x Rp 1.800 = Rp 9.000 2 x Rp 4.200 = Rp 8.400
  4. Untuk pembagiannya, kegiatan anak selanjutnya menumpuk sabun 5 bungkus tadi dan memberi harga Rp 9.000 kemudian menghitung harga satuannya.

Lanjutkan dengan kegiatan yang sama untuk benda yang berbeda. Satu hal yang menarik dalam kegiatan yang dilakukan oleh sorang guru tersebut. Bahwa beliau tidak hanya meminta anak menjadi reseptor (penerima pasif) dari soal cerita. Beliau justru menghendaki siswanya menjadi kreator (pencipta aktif) soal cerita. Beliau meminta siswa membuat soal cerita yang sesuai dengan pengalaman mereka.

Demikian salah satu kegiatan yang kreatif dan menarik yang dapat dilakukan oleh para guru di sekolah dalam membelajarkan matematika. Carita tadi saya sajikan begitu adanya dari sebuah paket pelatihan matematika yang di pelopori oleh program USAID PRIORITAS. Tentu masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang menarik dalam kegiatan tersebut, jika teman-teman guru menghendaki untuk dapat membaca inspirasi-inspirasi kegiatan yang lain yang lebih lengkap silahkan DOWNLOAD DI SINI

format IMPASING PAK LAMA (1993) KE PAK BARU 2013


Teman guru menjelang pelaksanaan peraturan baru tentang kenaikan jabatan fungsional guru pada tahun 2013, maka secara nasional disepakati bahwa pada Desember 2012 semua guru harus mengajukan Daftar Usulan Penilaian Angka Kredit (DUPAK) untuk Jabatan fungsiona guru. Berdasarkan DUPAK yang diajukan tersebut, maka setiap guru akan memiliki star PAK yang baru yang selanjutnya akan digunakan untuk kenaikan angka kredit dengan menggunakan peraturan yang baru berdasarkan Permenpan no 16 tahun 2009.

Ada yang istimewa dalam pengajuan DUPAK tahun ini, yaitu teknik penilaian PAK masih menggunakan peraturan lama dan format DUPAK juga masih menggunakan format lama berdasarkan Kepmendikbud bersama Kepala BAKN no 25 tahun 1993, yaitu lampiran 1, 2, 3 dan 5. Khusus pada lampiran 3 yaitu format PAK teman-teman guru harus menggunakan format transisi atau format penyesuaian DUPAK lama ke DUPAK BARU dengan menggunakan format yang bisa di download di sini

ALAT PERAGA yang Dapat Nilai Angka Kredit dan alasan Penolakannya


Jenis alat peraga yang dapat diakui angka kreditnya antara lain:

  1. Poster/gambar untuk pelajaran
  2. Alat permainan pendidikan
  3. Model benda/barang atau alat tertentu
  4. Benda potongan (cutaway object)
  5. Film/video pelajaran
  6. Gambar animasi komputer
Alasan Penolakan dalam Penilaian angka kredit:
  1. Alat peraga yang dikirimkan diragukan keasliannya karena laporan yang dikirimkan tidak memuat fotobahan, proses pembuatan, hasil pembuatan dan saat digunakan di kelas. Saran : Laporan alat peraga harus diperbaiki dan dikirimkan lagi dengan dilengkapi keempat foto pembuatan dan penggunaan.Alat peraga hanya dikirimkan foto/barangnya tetapi
  2. Tidak ada narasi laporan pembuatan dan penggunaan. Saran:  Dilengkapi dengan narasi laporan pembuatan dan penggunaan yang dilengkapi foto pembuatan dan penggunaan.
  3. Laporan alat peraga yang dikirimkan tidak disertai foto pembuatan dan foto penggunaan (bila tidak disertakan alat peraganya). Saran: Laporan alat peraga dilengkapi dengan  foto pembuatan dan foto penggunaan (bila tidak disertakan alat peraganya).
  4. Laporan alat peraga yang dikirimkan tidak ada pengesahan dari kepala sekolah. Saran: Laporan alat peraga diperbaiki dan dikirimkan ulang  dengan dilengkapi pengesahan dari kepala sekolah
  5. Alat peraga yang dibuat tidak bermanfaat dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Saran: Alat peraga diganti dengan yang baru, yang dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Baca lebih lanjut
%d blogger menyukai ini: