KISI-KISI US/M SD DAN MI TAHUN 2016


Alhamdulillah Kisi-kisi US/M SD dan MI Tahun 2016 sudah keluar. Kisi-kisi ini merupakan irisan antara kurikulum 2006 dan kurikulum 2013. Mari kita persiapkan sesegera mungkin terutama bagi sekolah yang menjalankan Kurikulum 2013, karena tahun ini adalah tahun pertama kali kita melaksanakan Ujian Sekolah.

Tidak perlu lama-lama silahkan download di sini:

  1. Peraturan KaBalitbang tentang kisi-kisi USM.
  2. Kisi-kisi US/M tahun 2016

Belajar dari Tukang Batu Akik


edi-tukang-poles-batu-cincin-pontianak_20150205_160132Suatu sore datanglah seorang guru wiyata bhakti ke rumah. Saya sudah menduga-duga biasanya guru WB datang ke rumah karena ada masalah tentang sertifikasi. Apakah data di Dapodik tidak sesuai, atau butuh SK GTY, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran di sekolah.

“Gemana mas, apa yang bisa saya bantu?” Saya memulai pembicaraan.

“Ini pak, saya mau menunjukkan beberapa contoh batu akik. Eh..barangkali pak Narto tertarik,” dia menjawab sambil mengeluarkan beberapa batu akik satu persatu dari tasnya.

Dalam hati sebenarnya saya tertawa bercampur geli juga. Selama ini saya tidak pernah tertarik dengan namanya assesoris tubuh. Apakah itu jam tangan, gelang, cincin atau apalah termasuk juga batu akik. Rasanya ribet dan bikin susah aja pakai kayak begituan.

“Ini namanya Badar Perak pak?” dia meneruskan promosinya. “Uniknya batu ini adalah batu ini bening, tetapi kalau disenter di dalamnya ada semacam gumpalan-gumpalan mirip perak. Ini batu asli pak. Silahkan dipegang atau digosok. Ini bukan kaca.”

Karena saya penasaran, maka segera aku ambil senter dan aku sorot batu itu. Weleh-weleh ternyata bener yang ia katakan. Batu itu di dalamnya ada semacam gumpalan-gumpalan perak. Di sela-sela gumpalan perak itu adalah warna bening seperti air,  padahal ini batu. LUAR BIASA batin saya mengatakan. Kenapa batu bisa seperti ini.

“Ini namanya Kalimaya”, Dia menunjukkan batu yang lain lagi. Menurutnya batu ini kalau terkena sinar matahari akan berkilau-kilau memancarkan beraneka warna mengkilap. Lantas saya buktikan dengan saya menyoroti batu itu dengan senter. Wih…ini juga luar biasa. Yang menjadikan saya terkesima adalah kenapa batu bisa menjadi indah seperti itu. Begitu MAHA KUASA Allah menciptakan alam ini.

Singkat cerita kemudian saya membeli salah satu dari batu itu. Begitu panasarannya tentang batu akik, lantas saya mengambil potongan batu kecil yang ada di rumah untuk bisa dibuatkan akik kepada teman guru WB tersebut. Dia menjanjikan 3 hari insya allah sudah jadi.

Sesuai perjanjian, maka 3 hari kemudian dia datang lagi ke rumah. Dan…….masya Allah,  batu akik pesanan saya sudah jadi. Waktu itu batunya gak berbentuk, warnanya kusam kehitaman. Namun setelah jadi di luar dugaan. Batu akiknya menjadi berwarna bening kekuning-kuningan. Dia menyebutnya Batu Sulaiman. Gila benar ini, kenapa ya dari dulu saya gak tahu keindahan  ciptaan Allah tentang batu ini. ALLAHU AKBAR.

Ada dua hal yang saya sangat kagum dengan fenomena batu akik ini, yaitu

Pertama: Saya kagum sekagum-kagumnya kepada Allah swt yang telah menciptakan aneka keindahan di dunia ini. Hanyalah batu yang saya tahu. Tetapi di dalam batu yang Allah ciptakan terdapat berbagai keindahan yang tidak mungkin dibuat oleh manusia. Di dalam batu mana mungkin bisa ada gambar keris, mana mungkin bisa ada semutnya. Di dalam batu juga bisa ada tulisan asma Allah, di dalam batu bisa ada pemandangan menyerupai karang di bawah laut dan masih banyak lagi.

Kedua: Saya kagum dengan SI TUKANG BATU AKIK. Begitu cerdasnya dia. Begitu jelinya dia. Bagaimana dia menerawang sehingga bisa diperoleh gambaran yang ajaib itu. Bagaimana dia mencari posisi, sehingga dari arah tertentu batu itu bisa memunculkan view terindah. Bagaimana dia memoles dan menggosoknya sehingga batu yang dulunya kusam menjadi kinclong dan bernilai tinggi. LUAR BIASA mereka.

PEMBELAJARAN untuk kita semua selaku pendidik. Ditangan tukang batu akik,  batu yang semula satu kubik kira-kira hanya berharga 60.000,- rupiah bisa disulap hanya dengan mengambil satu butir batu sebesar biji salak saja, kemudian digosok dan aknhirnya menjadi berharga sampai jutaan rupiah. Itu semua ditentukan oleh ketelitian dan ketelatenan mereka dalam melihat serat-serat dan warna batu. Kecerdasan mereka dalam memposisikan serat-serat dan warna batu, sehingga dapat terlihat paling exotik dan bernilai tinggi. Kesabaran mereka dalam menggosok dan menggerenda batu, sehingga diperoleh batu akik yang semula kusam menjadi indah kemilau.

Alangkan hebatnya anak-anak Indonesia ini jika dikelola oleh para guru yang menggunakan mekanisme kerja seperti tukang batu akik. Sebelum membelah batu, tukang batu akik sudah mengemati terlebih dahulu apa kelebihan dan kekurangannya. Dari arah mana mereka akan membelah sehingga diperoleh view terbagus dan tidak menghilangkan keasliannya. Begitu juga seharusnya seorang guru, mestinya sebelum mengajar anak didik terlebih dahulu harus mengamati apa kelemahan dan kelebihannya. Dari mana dia harus memulai mengajar sehingga anak didik dapat berkembang optimal potensinya. Sisi-sisi mana yang harus mendapatkan perhatian serius untuk dapat dikembangkan atau dikendalikan. Bagian-bagian mana yang harus digosok sehingga dapat menjadi prestasi dan bernilai tinggi. Bagian-bagian mana yang harus dipotong dan dihilangkan untuk tetap menjaga harga tinggi.

Batu yang TIDAK BERHARGA saja, jika dikelola dengan baik dan cerdas dapat BERHARGA tinggi. Saya yakin seyakin-yakinnya jika anak didik yang memang SUDAH BERHARGA jika dikelola dengan baik dan cerdas tentu menjadi SANGAT BERHARGA. Saya yakin ditangan para pendidiklah mereka nanti menjadi insan yang berharga tinggi. Berharga untuk diri sendiri, berharga untuk lingkungannya dan tentu berharga untuk negara ini.

Terima kasih.

Selamat menunaikan ibadah puasa.

Mencari Format Pembelajaran Karakter yang Tepat


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan sepanjang 2013 telah terjadi peningkatan jumlah perkara korupsi. Dari 49 perkara yang ditangani pada 2012, tahun 2013 meningkat hampir dua kali lipat menjadi 70 perkara. Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) melaporkan bahwa  tawuran pelajar terus meningkatkan sampai 40%. Pada tahun 2013 Total kasus tawuran pelajar di seluruh Indonesia mencapai 255 kasus dengan total tewas 20 orang.

Penelitian Komnas Perlindungan Anak (KPAI) di 33 Provinsi pada bulan Januari-Juni 2008 sangat mencengangkan. Berdasarkan penelitian disimpulkan  empat hal: Pertama 97% remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno; Kedua  93,7% remaja SMP dan SMA pernah ciuman, genital stimulation (meraba alat kelamin) dan oral seks; Ketiga, 62,7% remaja SMP tidak perawan; keempat yang terakhir, 21,2% remaja mengaku pernah aborsi.

Melihat data-data di atas tentu kita sebagai bangsa yang terkenal dengan budaya ketimuran yang identik dengan sopan-santun, religius, berbudi pekerti dan berkarakter tentu sangat prihatin dengan kondisi ini. Mengapa generasi bangsa ini begitu mudah kehilangan jatidiri, abmoral, dan semakin menjauh dari peradaban. Dimanakan karakter bangsa yang terkenal “adiluhung” ? Mengapa demikian cepat menghilang dari negeri ini, baik dari kalangan orang dewasa maupun dari remaja dan anak-anak.

Sadar akan kondisi yang kritis ini pemerintah serta merta menyiapkan berbagai strategi untuk memperbaiki tragedi moral ini. Salah satu upaya yang diandalkan untuk mengatasi krisis moral ini adalah pembenahan proses pendidikan di sekolah.

 

Apa karakter itu?

Banyak pengertian karakter menurut para ahli, namun pada dasarnya hampir sama substansinya. Pengertian tentang karakter yang paling mudah dimengerti adalah menurut Suyanto  dan Kertajaya. Menurut Suyanto (2009) karekter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara. Kertajaya (2010) menjelaskan bahwa Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu.

Dari definisi di atas suatu benda atau individu dikatakan memiliki karakter jika memiliki beberapa syarat, antara lain:

  1. Memiliki ciri khas yang dapat membedakan dengan individu lain (unik).
  2. Keunikan / ciri khas itu asli dan mengakar (mendarah daging).
  3. Tidak mudah terpengaruh oleh kondisi di luar indinvidu
  4. Orang lain mengetahui dan bisa membedakan individu yang memiliki karakter tersebut.

Contoh sederhana dalam memahami karakter adalah sebagai berikut: Di dunia ini banyak sekali jenis kayu. Semua kayu mempunyai ciri-ciri yang sama, yaitu: berasal dari tumbuhan, keras, dan mudah terbakar. Namun di dunia ini banyak sekali jenis kayu yang berbeda satu dengan lainnya. Ada kayu jati, kayu mahoni, kayu kalimantan, kayu tahun, kayu glugu dan sebagainya. Semua jenis kayu tersebut mempunyai karakter masing-masing  yang membedakan satu sama lainnya. Misalnya kayu jati memiliki karakter yang berbeda dengan kayu kalimantan, kayu tahun dan kayu-kayu lainnya. Kayu jati memiliki karakter keras, berserat halus, dan  tidak mudah lapuk. Karakter kayu jati itu dapat dibedakan dengan tegas dengan karakter yang dimiliki oleh kayu-kayu lainnya.

Begitu pula dengan individu (perorangan) atau kumpulan individu (masyarakat/ bangsa). Ir. Soekarno memiliki karakter  yang: tegas, berani, pandai berorasi, dan romantis. Bagitu pula dengan Soeharto tentu memiliki karakter yang berbeda dengan yang lainnya seperti: tegas, murah senyum, wibawa, tekstual dan sebagainya.

Dalam skala yang lebih luas bangsa Indonesia tentu mempunyai karakter yang berbeda dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sejak tahun 2011 menetapkan 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter, yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, dan tanggung jawab.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah ke-18 karakter tersebut sudah dimiliki bangsa Indonesia yang sudah mendarah-daging sehingga sudah menjadi karakter bangsa ataukah baru merupakan cita-cita yang akan dicapai? Kalau ke-18 karakter tersebut sudah merupakan “identitas” bangsa Indonesia tentu pembelajaran di sekolah menjadi ringan, karena hanya menguatkan dan memperjelas apa yang sudah terjadi di liangkungan keluarga ataupun lingkungan masyarakat.

Tetapi seandainya ke-18 karakter tersebut baru merupakan cita-cita, tentu tugas sekolah amatlah berat. Pendidikan karakter tidak bisa hanya oleh sekolah, tetapi pendidikan karakter harus terjadi pada anak sejak bangun tidur sampai tidur lagi melalui pembiasaan. Pendidikan karakter akan dimulai dari merapikan tempat, antri masuk kamar mandi, tepat waktu masuk sekolah, tidak buang sampah sembarangan di sekolah, sopan terhadap orang tua, menghargai pendapat teman, dan seterusnya sampai tertib solat  dan berdoa ketika akan tidur.

Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal. Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Di antara metode pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan,  metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman.

 

Model-model Pendidikan Karakter di Sekolah

Pendidikan karakter cukup mudah dibicarakan tetapi ternyata amat sulit diimplementasikan di sekolah. Bahkan sampai saat ini tidak ada satu metode pun yang terbukti dilaksanakan secara efektif di sekolah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebenarnya telah menetapkan beberapa panduan dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah.

Pada awalnya pendidikan karakter dulu diajarkan secara tersendiri terpisah dengan mata pelajaran yang lain dengan mengajarkan diberi label Mata pelajaran Budi Pekerti.  Setiap minggu selama 2 jam pelajaran di sekolah diajarkan pelajaran budi pekerti. Materi pelajaran budi pekerti hampir mirip dengan Pendidikan Moral yang meliputi: tata cara pergaulan, tata cara berlalulintas, tata cara makan bersama, tata krama di tempat umum dan sebagainya. Namun akhirnya pelajaran Budi Pekerti ini menuai banyak masalah, utamanya berkaitan dengan hasil pembelajaran. Karena merupakan mata pelajaran tersendiri yang diajarkan selama 2 jam pelajaran setiap minggunya, maka konsekwensinya adalah 5 hari pelajaran yang lain tidak ada “budi pekerti” yang seharusnya dilakukan setiap hari. Selain itu konsekwensi dari sebuah mata pelajaran adalah adanya tes hasil belajar yang berupa tes tertulis. Akibatnya pelajaran budi pekerti hanyalah menjadi semacam pelajaran PKn, yang bisa diteorikan tetapi tidak dilaksanakan sepenuhnya oleh siswa. Siswa mengetahui bahwa hal-hal ini baik untuk dilakukan dan hal-hal itu tidak baik untuk dilakukan tetapi mereka tidak melaksanakannya. Toh asalkan mereka sudah tahu dan dapat menjawab soal, nilai mereka tetap baik walaupun mereka tidak mengamalkannya.

Pada tahapan berikutnya skema pendidikan karakter menyatu dengan mata pelajaran yang lainnya. Kemudian diadakan berbagai pelatihan mengajar dengan menerapkan pendidikan karakter di dalamnya. Pelatihan membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pelajaran) menjadi tranding topik yang menyita semua lembaga pelatihan pendidikan. Akhirnya muncul istilah adanya “RPP berkarakter” yang membedakan dengan RPP sebelumnya. Dalam RPP ini guru diharapkan menuliskan karakter apa saja yang akan ditanamkan ke dalam jiwa anak pada saat dilaksanakan pembelajaran di dalam kelas. Begitu hebohnya trand ini sehingga justru melupakan substansi pendidikan karakter itu sendiri. Guru, Kepala Sekolah sampai Pengawas Sekolah lebih fokus mencurahkan perhatiannya kepada “format RPP Berkarakter”. Mereka tidak lagi memperhatikan dengan serius implementasi pendidikan karakter yang sebenarnya di kelas. Asalkan di dalam RPP sudah tersurat dengan benar, maka “lunas” sudah kewajiban guru dalam pendidikan karakter.

Akhirnya sekarang pendidikan karakter menyatu padu dengan kurikulum 2013. Artinya di dalam kurikulum 2013 ini sudah didesign sedemikian rupa sehingga diharapkan pendidikan karakter dapat dilaksanakan dengan sesungguhnya. Dalam kurikulum ini dirancang bagaimana menanamkan 4 kompetensi sekaligus, yaitu: KI 1 (Sikap Spiritual), KI 2 (Sikap Sosial), KI 3 (Pengetahuan) dan KI 4 (Keterampilan). Terlihat jelas bahwa KI 1 dan KI 2 adalah upaya kurikulum dalam menanamkan karakter pada anak didik. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana agar pendidikan karakter tersebut  benar-benar tertanam dalam di dalam hati sanubari peserta didik? Akankah pelaksanaan pelajaran seperti biasanya bisa membuat peserta didik berkarakter? Ini perlu dijawab oleh para pendidik semuanya.

Penulis masih sependapat bahwa metode pendidikan karakter tetap menggunakan metode keteladananmetode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman. Namun demikian ke-3 metode tersebut haruslah dikemas dengan menggunakan strategi dan program yang tepat. Ke-18 nilai karakter yang ditetapkan oleh Balitbang Kemdikbud tidak akan tercapai jika tidak dilakukan penjadwalan dan penetapan berbagai bentuk kegiatan yang jelas. Guru saja tidak hafal akan ke-18 nilai karakter tersebut, apalagi peserta didik untuk melaksanakannya.

Penanaman nilai karakter haruslah dilakukan secara bertahap dengan intensitas yang dalam. Misalnya pada 3 bulan pertama siswa masuk sekolah, nilai yang ditanamkan hanyalah “disiplin” saja. Nilai karakter yang lain belum akan diprioritaskan untuk mendapatkan perhatian. Pada 3 bulan pertama tersebut seluruh komponen sekolah haruslah bersikap disiplin. Mulai dari Kepala Sekolah, guru, tata usaha, siswa dan bahkan penjaga sekolah sekalipun. Semua lingkungan dibuat supaya pelaksanaan sikap disiplin dapat terlaksana secara kondusif, misalnya dengan memasang poster-poster tentang kedisiplinan, memasang bel otomatis, adanya hukuman yang tegas, semua komponen sekolah bersikap sama untuk disiplin dan sebagainya. Setelah sikap disiplin tersebut sudah mapan benar, baru kemudian ditambahkan dengan sikap kepribadian yang lainnya misalnya “kerja keras”. Hal ini juga dilakukan selama beberapa bulan berikutnya sebagaimana pada saat penanaman disiplin. Semua komponen sekolah harus menunjukkan sikap kerja keras mulai dari Kepala Sekolah sampai dengan penjaga sekolah. Bedanya pada tahapan ini sikap disiplin tetap terus dilaksanakan sebagaimana biasanya pada 3 bulan pertama. Demikian seterusnya sampai seluruh nilai kepribadian dapat dilaksanakan secara mantap.

Saran penulis adalah mungkin sekolah tidaklah harus melaksanakan ke-18 karakter tersebut, selain sulit mengaturnya sebenarnya banyak nilai-nilai karakter yang dituliskan tersebut akan tercapai dengan sendirinya jika karakter sebelumnya tercapai. Sebagai contoh jika sikap spiritual, disiplin, kerja keras dan suka menolong tercapai maka kemungkinan besar sikap-sikap seperti tanggung jawab, kerja keras, toleransi, demokratis, ingin tahu dan sebagainya akan tercapai dengan sendirinya.

Pengelolaan Kelas Teknologi Terbatas Model Kelompok Kolaboratif


Deskripsi:

Setiap tim kecil bertanggung jawab untuk memberikan peran kerja dan kontribusi untuk terciptanya sebuah produk kreasi bagi seluruh kelas. Setiap tim tidak melakukan hal yang sama di saat yang sama, namun melakukan sesuatu yang berbeda untuk ikut berperan dalam terciptanya sebuah produk yang disusun oleh seluruh tim (tim besar) – pada prinsipnya, yang dilakukan adalah pembagian kerja.

Contoh di bawah ini menunjukkan cara bagaimana menciptakan sebuah leaflet (newsletter). Setiap rantai dalam jaring/susunan kerja ini adalah topik tugas untuk setiap tim kecil. Peran siswa juga dapat dirotasi di antara tim (sehingga setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk menulis, mengambil foto, edit, menggunakan komputer, dsb).

kelompok kolaboratifContoh: Leaflet Kelas

Seluruh kelas membuat sebuah leaflet mengenai topik khusus (misalnya, air bersih di lingkungan kita). Siswa dibagi ke dalam beberapa tim (seperti yang terpapar di bawah) dan setiap tim harus melakukan tugas-tugas tertentu yang berkontribusi pada penyusunan leaflet secara keseluruhan. 

  • Tim Fotografi: Mengambil foto air bersih, air kotor, pembuatan air minum, pengambilan air dari sumber air, dsb.
  • Tim Penulis: Tim-tim ini (harus ada lebih dari satu tim) yang menulis isi – persediaan air bersih, masalah curah hujan, pembuatan air minum, dsb.
  • Tim Editor: Tim ini mengedit isi yang ditulis. Mereka dapat mengirimkan hasil editing ke tim lain (selain Tim Penulis) untuk revisi lebih lanjut.
  • Tim Artistik: Membuat diagram, grafik, dan karya-karya seni lain untuk menjelaskan tulisan secara visual.
  • Tim Layout Komputer: Mereka mengumpulkan produk dari tim lain dan menyusunnya di komputer, menghasilkan hasil akhir dari leaflet yang siap dipublikasikan.

 

Model Stasiun Belajar


Model stasiun belajar  mendemonstrasikan satu cara bagaimana menggunakan komputer untuk mendukung proses pembelajaran, dimana para  Siswa bekerja dalam tim, berotasi untuk menggunakan beberapa pusat (stasiun) pembelajaran multi-fungsi, dimana salah satunya adalah stasiun komputer. Di saat mereka ada di dalam pusat atau stasiun pembelajaran, mereka dapat mengumpulkan apa yang dapat mereka peroleh dari seperangkat sumber daya tertentu. Setiap stasiun fokus pada teknologi, ketrampilan, atau tipe sumber daya yang berbeda-beda.

stasiun belajarMisalnya, apabila kita bermaksud untuk mencari informasi mengenai asal-muasal dari satu bangunan bersejarah, salah satu stasiun dapat mencetak sumber-daya informasi yang dapat dibaca oleh siswa (artikel surat kabar); stasiun lain mungkin melibatkan siswa untuk mengambil foto dari material lokal/yang ada yang dahulu digunakan untuk mendirikan bangunan tersebut (batu granit, semen, dsb), dan di stasiun ketiga – yang mungkin menjadi satu-satunya stasiun komputer – siswa dapat mentransfer foto-foto mereka dari kamera HandPhone atau kamera digital ke dalam komputer. Setiap tim siswa berotasi melalui 3 stasiun yang berbeda sehingga di akhir pelajaran, atau di akhir aktivitas mereka telah melakukan aktivitas yang sama – walaupun tidak secara bersamaan.

Siswa juga dapat memainkan berbagai peran dan tanggung jawab dalam timnya serta menjalankan peran ini di pusat-pusat pembelajaran yang berbeda sehingga setiap siwa memiliki tugas khusus yang harus dipenuhi.

Beberapa peran dalam kelompok yang biasanya dimainkan: Semua anggota kelompok berotasi untuk menggunakan komputer, sebagai berikut:

  • Manager Komputer (Computer Manager)Memastikan bahwa setiap anggota kelompok memiliki kesempatan dan waktu yang sama dalam menggunakan komputer. Tugasnya adalah mengingatkan kelompok untuk menyimpan (save) informasi.
  • Manajer Materi (Materials Manager)Menginformasikan tentang materi apa saja yang tersedia, mengambil materi sesuai kebutuhan, mengembalikannya, dan merapikan stasiun pembelajaran untuk digunakan oleh kelompok berikutnya.
  • Fasilitator (Facilitator)Mendorong semua anggota kelompok untuk berpartisipasi dan mempertahankan alur kegiatan (tetap pada topik yang ditugaskan/disepakati).
  • Penjaga waktu (Time Keeper) Mencatat waktu mulai dan waktu akhir dari aktivitas, mengecek waktu secara periodik, memberi peringatan 5 menit sebelum berakhirnya aktivitas, dan memastikan bahwa kelompok datang dan selesai pada waktunya.
  • Ahli’ Teknologi (Technology Experts)– Kemungkinan memiliki pengetahuan tentang teknologi yang sedang digunakan dan membimbing yang lain untuk menggunakan teknologi secara mandiri (tidak mengerjakannya untuk yang lain).
  • Perekam/Notulen (Recorder) Merekam atau mencatat semua informasi dan ide-ide.
  • Peran Lain  –  Sesuai dengan apa yang disarankan oleh siswa atau guru.

Diagram untuk menyusun/menetapkan stasiun-stasiun pembelajaran: Setiap stasiun atau pusat pembelajaran terdiri atas 5 siswa dan harus ada perintah tertulis tentang sebuah aktivitas atau tugas yang harus dipenuhi siswa. Hanya satu stasiun adalah stasiun komputer. Setelah satu periode waktu tertentu, siswa berotasi untuk pergi ke stasiun lain dan ke satu stasiun yang terakhir. Di akhir aktivitas (setelah satu minggu, 1 periode kelas, atau 1 jam pelajaran, dsb) seluruh siswa telah melalui 3 stasiun tersebut.

2. Model Navigator

Pembelajaran di Kelas dengan 1 Komputer Model Navigator


UntitledKerja Model Navigator dapat dilaksanakan dengan baik apabila kita menggabungkan individu-individu yang memiliki tingkat ketrampilan yang berbeda-beda untuk menggunakan 1 komputer.

Salah satu cara memahami aktivitas ini adalah dengan mengandaikannya dengan perjalanan dengan 1 mobil. Anda tahun tujuan anda dan beberapa orang di dalam mobil akan membantu anda mencapai tujuan. Misalnya, ada satu pengemudi yang menjalankan mobilnya, lalu ada seorang navigator yang memberikan arah atau seorang penumpang yang memberikan informasi lain.

Dalam Model Navigator, cara komputer bekerja dengan cara yang sama seperti sebuah mobil. Bayangkan ada sebuah tim dari 4 siswa yang harus menyusun presentasi Power Point mengenai pulau-pulau terbesar di Indonesia. (Kelompok ini telah melakukan brainstorming (pendaftaran ide) dan ide-ide utama yang ditemukan itu telah ditulis di atas kertas.)

  •  Navigator adalah individu yang paling menguasai komputer. Tanpa menyentuh mouse atau keyboard, ia akan melatih pengemudi untuk menggunakan komputer.  Ia hanya dapat berbicara dan menunjuk saja.
  • Pengemudi adalah individu yang ‘mengemudikan’ komputer. Ia bertanggung jawab untuk menggunakan mouse atau keyboard untuk memasukkan informasi geografis (tentang pulau-pulau terbesar di Indonesia).
  • Penumpang kemungkinan memiliki hanya sedikit pengalaman teknologi. Ia mengamati dan belajar dari navigator dan pengemudi sampai ia mendapatkan gilirannya menggunakan komputer. Ia mengarahkan isi presentasi – membacakan catatan kelompok dan ide-ide/poin-poin utama – yang akan dimasukkan ke dalam presentasi PowerPoint.
  • Wisatawan juga mengamati dan belajar bagaimana menggunakan komputer. Ia memiliki sebuah buku catatan dan pensil untuk menulis semua instruksi dan langkah-langkah yang telah dilakukan untuk menjadi acuan di masa mendatang mengenai penggunaan komputer. Ia juga memberikan saran mengenai isi presentasi.

Seperti telah melakukan sebuah perjalanan panjang, setelah kira-kira 15 menit, peran ini harus dirotasi. Misalnya, penumpang mungkin menjadi pengemudi baru, dimana pengemudi dapat berlaku sebagai wisatawan. Tergantung pada ketrampilan menggunakan ICT, navigator mungkin saja tidak (belum) dapat diganti namun dapat pula dirotasi. Sistem rotasi ini memungkinkan semua anggota tim untuk menggunakan mouse dan keyboard.

 

Strategi Pengelolaan Kelas dengan Teknologi Terbatas


Belajar dengan 1 komputer

Belajar dengan 1 komputer

Postingan berikut adalah materi DALI (Developing Active Learning with ICT) oleh project DBE 2 USAID yang pernah saya ikuti beberapa tahun yang lalu. Namun demikian materi ini masih sangat up to date untuk di share kepada teman-teman guru semua, terutama teman-teman guru SD atau sekolah lanjutan yang masih memiliki teknologi terbatas namun tetap efektif dalam pembelajarannya.

Bagaimana guru dapat menggunakan 1 atau 2 unit computer saja untuk 40 siswa? Bagaimana guru dapat membantu siswa mereka untuk belajar bagaimana menggunakan ICT tanpa harus mengorbankan seluruh waktu belajar untuk pelajaran computer semata? Masalah manajemen atau pengelolaan semacam ini sering menjadi masalah terpenting yang dihadapi para guru pada saat ingin memulai ICT. Padahal, di negara-negara lain di dunia, para guru telah berhasil menggunakan 1 atau 2 unit computer untuk sekelompok besar siswa — dan dapat dikatakan telah berhasil dengan baik.

Pedoman ini memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang sering diajukan para guru. Pedoman ini memperkenalkan 4 model manajemen untuk menyelenggarakan kelas komputer yang terbatas (sebuah kelas yang hanya memiliki 1 sampai 4 komputer untuk 40 siswa). Model-model ini meliputi:

Model-model manajemen di atas juga mendeskripsikan cara-cara yang dapat digunakan sehingga para siswa dapat mengajarkan teman-teman sekelasnya bagaimana menggunakan ICT. Dalam Model Pusat Pembelajaran, siswa bekerjasama untuk mempelajari bagaimana menjalankan sebuah program computer. Dalam Model Navigator, guru dapat mengajarkan tidak lebih dari 5 instruksi kepada wakil-wakil tim. Wakil-wakil ini akan kembali ke tim-nya masing-masing untuk mengajarkannya pada teman-temannya. Dalam Model Para Ahli, guru akan menunjuk seorang siswa yang dianggap ‘ahli’ untuk mengajarkan teman-teman sekelasnya untuk menggunakan komputer sesuai dengan kebutuhan mereka. Akhirnya, Model Kolaboratif menunjukkan bahwa tidak setiap aktivitas perlu terus-menerus melibatkan siswa — dan bahwa penggunaan komputer oleh siswa dapat beragam sesuai dengan tugas yang diberikan.

Panduan Festival & Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Tahun 2013


fls2nTeman-teman guru yang berbahagia,  Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) dilaksanakan setiap tahun.  Tahun ini dipastikan akan dilaksanakan juga lomba tahunan itu dengan materi yang mirip dengan tahun lalu. Namun untuk jenjang sekolah dasar ada beberapa cabang lomba baru yang sebelumnya belum ada pada tahun lalu, yaitu adanya cabang Pantomim dan membuat cerita bergambar.

Karena sampai hari ini panduan secara resmi tentang FLS2N belum ada, namun begitu kita tetap harus menyiapkan materi maupun artisnya, maka dengan ini saya akan berbagi dengan teman-teman semua tentang Panduan dan Petunjuk teknis pelaksanaan Festival dan lomba  Seni Siswa Nasional Tingkat kecamatan Madukara, kabupaten Banjarnegara yang sudah kami laksanakan pada 30 Maret 2013 yang lalu. semoga bermanfaat untuk teman-teman semua.

ADAPUN PANDUAN JUKNNISNYA SILAHKAN DI DOWNLOAD DI SINI !!

Mendesign Pembelajaran Matematika yang mengasyikkan


jamUntuk Meningkatkan Kemampuan Siswa menghadapi Soal Cerita tentang Perkalian danPembagian Perkalian dan pembagian merupakan materi yang saling berpasangan. Materi tersebut termasuk materi esensial yang cukup lama proses penanamannya. Bahkan, kalau udah disajikan dalam soal cerita, seringkali para siswa mengalami kesulitan.

Bagaimana guru dapat membelajarkan siswanya dengan tampilan yang berbeda dan menarik. Bu Kresniwiyati, Guru SD Negeri Gombong 5 Kabupaten Kebumen memberikan tips sebagai berikut:

  1. Siapkan sudut pasar di dalam kelas (dus susu, korek api, sabun, dll) dengan jumlah tiap benda minimal 12 bungkus. Beri label harga untuk tiap benda.
  2. Minta anak mengambil 2 benda yang berbeda dengan jumlah lebih dari 1. Misal: sabun mandi 5 bungkus @ Rp 1.800, pasta gigi 2 bungkus @ Rp 4.200
  3. Secara berkelompok siswa menghitung harga barang yang terambil. 5 x Rp 1.800 = Rp 9.000 2 x Rp 4.200 = Rp 8.400
  4. Untuk pembagiannya, kegiatan anak selanjutnya menumpuk sabun 5 bungkus tadi dan memberi harga Rp 9.000 kemudian menghitung harga satuannya.

Lanjutkan dengan kegiatan yang sama untuk benda yang berbeda. Satu hal yang menarik dalam kegiatan yang dilakukan oleh sorang guru tersebut. Bahwa beliau tidak hanya meminta anak menjadi reseptor (penerima pasif) dari soal cerita. Beliau justru menghendaki siswanya menjadi kreator (pencipta aktif) soal cerita. Beliau meminta siswa membuat soal cerita yang sesuai dengan pengalaman mereka.

Demikian salah satu kegiatan yang kreatif dan menarik yang dapat dilakukan oleh para guru di sekolah dalam membelajarkan matematika. Carita tadi saya sajikan begitu adanya dari sebuah paket pelatihan matematika yang di pelopori oleh program USAID PRIORITAS. Tentu masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang menarik dalam kegiatan tersebut, jika teman-teman guru menghendaki untuk dapat membaca inspirasi-inspirasi kegiatan yang lain yang lebih lengkap silahkan DOWNLOAD DI SINI

Pelatihan MBS untuk Guru SMP


Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa setiap sekolah wajib menyelenggarakan pengelolaan sekolah berdasarkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). Dalam penyeleneggaraan MBS setiap sekolah wajib melaksanakan 3 pilar utama dalam MBS, yaitu: 1) Manajemen sekolah yang transparan, partisipati dan akuntabel  2) Pelaksanaan PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan) dan 3) Melibatkan peran serta masyarakat secara optimal.

Khusus pelatihan hari ini teman-teman guru SMP sedang membahas tentang pelaksanaan PAKEM. Dalam melaksanakan PAKEM, guru wajib menguasai 5 hal yaitu yang sering disingkat P I M3, yaitu: Performan, Icebreaker, Materi, Media dan Metode.

Penampilan seorang guru tentu merupakan hal pertama yang akan menentukan keberhasilan proses pembelajaran di kelas. Guru yang menarik, tentu akan menjadi magnet tersendiri bagi para siswa untuk terlibat secara aktif selama pembelajaran. Begitu juga guru yang penampilannya membosankan tentu merupakan penghambat yang luar bisa untuk meraih sukses dalam proses pembelajaran.

%d blogger menyukai ini: