Andai Ujian Nasional tidak ada…


Hari-hari yang paling dramatis adalah hari di mana seluruh Indonesia diumumkan hasil ujian nasional. Pada hari itu terjadi 2 peristiwa drmatis yang sangat bertolak belakang dan terjadi pada satu tempat.

Satu peristiwa terjadi luapan kegembiraan yang teramat sangat pada siswa-siswa yang dinyatakan lulus ujian nasional. Bahkan mereka merelakan seluruh pakaian dan tubuhnya dicorat-coret pakai cat berwarna, yang mungkin itu sangat sulit dihilangkan dalam beberapa hari. Bahkan saking gembiraanya mereka melakukan konvoi dengan tanpa pengaman yang menyebabkan beberapa di anatara mereka harus kehilangan nyawa.

Peristiwa lain pada tempat yang sama banyak sekali siswa siswa yang pingsan karena saking sedihnya melihat kanyataan bahwa dirinya tidak lulus ujian nasional. Bahkan beberapa siswa ada yang stress sampai mengamuk tidak karuan. Yang lebih tragis lagi ada beberapa siswa harus mengakhiri hidupnya karena dinyatakan tidak lulus ujian.

Ujian Nasional yang selama ini menakutkan bagi guru dan siswa itu sebenarnya tetap kontroversial. satu pihak mengatakan bahwa Ujinan Nasional tetap harus berjalan, karena itulah satu-satunya tolok ukur atau standarisasi keberhasilan pembelajaran di sekolah yang masih bisa dipandang obyektif. Dengan demikian diharapkan semua sekolah menyelengarakan pendidikan minimal bisa mengerjakan soal-soal Ujian Nasional, bahkan diharapkan bisa lebih dari pada itu yaitu kompetensi non akademik juga mampu dikuasai.

Pihak lain yang menentang, dengan argumentasi bahwa Ujian Nasional hanya akan mengerdilkan arti pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang seharusnya bisa mengembangkan kemampuan siswa secara lebih konprehensip dan seimbang tentang  aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor menjadi kerdil dengan hadirnya Ujian nasional. Ujian nasional hanya akan menggiring guru dan siswa untuk hanya terfokus pada hafalan-hafalan konsep yang mungkin tidak bisa diaplikasikan dalam kehidupannya kelak dimasyarakat.

Andaikan ujian nasional ditiadakan kira-kira apa yang akan terjadi?

Sebenarnya memang idealnya ujian ditentukan oleh sekolah sendiri dengan mengacu pada hal-hal sebagai berikut:

  1. Mengacu pada standar kompetensi dan kompetensi dasar pada kurikulum yang telah ditetapkan.
  2. Ujian lebih ditekankan pada pengujian kompetensi (akademik, motorik, maupun sikap) dari pada sekedar hafalan saja.
  3. Ujian harus mengacu pada prinsip relevansi dengan tuntutan masyarakat (dunia kerja) maupun jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
  4. Materi ujian hendaknya telah diajarkan sebelumnya.
  5. Materi ujian hendaknya menyesuaikan dengan persaingan global.

Melihat ke-5 hal diatas rasanya memang sulit bahwa komptensi yang dibutuhkan generasi penerus bangsa ini hanya bisa kita uji dengan se-exemplar soal-soal ujian pilihan ganda. Namun jika Ujian nasional lantas dihilangkan, muncul beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah Sekolah akan mempunyai semangat yang sama dalam mencerdaskan anak bangsa, sebab tidak ada lagi target yang harus dipenuhi dan Tidak akan ada lagi kompetisi antar sekolah dalam hal kualitas pembelajaran.
  2. Seandainya sekolah diberi kewenangan untuk menentukan sendiri teknik ujian bagi para siswanya, apakah para guru sudah siap untuk bertindak obyektif dan fair?
  3. Apakah kompetensi lain selain aspek kognitif juga akan diajarkan oleh para guru secara sungguh-sungguh? Sementara ujian praktik yang sudah dilaksanakan selama ini sepertinya hanya memenuhi aspek-aspek formil saja, tanpa ada keseriusan.
  4. Apakah yang akan digunakan sebagai standar kualitas penyelenggaraaan pendidikan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: