Wawancara Aku dan pecahan batu kecil di depan sekolah


Aku dan Batu kecil

Pada tanggal 1-4 Desember yang lalu ada pelatihan Intel Teach di Gugus Kendalisada Kabupaten Purworejo. Sebelum masuk tempat pelatihan mendadak mata saya tertuju pada sebuah pecahan batu kecil di depan sekolah sebesar ibu jari. Setelah saya amati ternyata batu ini berbeda dengan batu-batu lain disekitarnya. Pecahan batu kecil ini ternyata merupakan sebuah batu putih pecahan dari meteor yang mungkin ribuan tahun yang lalu telah jatuh di bumi. Melihat bekas pecahannya, tampak bahwa batu ini semua adalah batu agak besar dan sengaja dipecah menjadi 3 bagian yang tidak sama besar (tidak tahu apakah ini disengaja atau hanya kebetulan).

Terlintas dalam pikiranku untuk melakukan wawancara (imaginer) dengan batu kecil ini. Berikut wawancara saya dengan batu kecil tersebut:

  • Saya: “He batu kecil kenapa kamu bisa sampai di sini, dari manakah asal kamu?’
  • Batu kecil: “Halo, aku berasal dari puncak sebuah bukit yang berada di sebelah utara Kota Purworejo yang bernama bukit Panungkulan. Saya sampai di sini karena dibawa oleh truk untuk membangun sebuah jalan di kecamatan gebang ini.”
  • Saya: “Loh, kenapa kamu tidak di jalan dan menyatu dengan aspal. Justru kamu berada di depan sekolah yang tak seorangpun memperhatikan keberadaan kamu termasuk siswa dan para guru yang ada di sini?”.
  • Batu kecil: “Itulah yang aku sesali. Waktu itu aku dibelah menjadi 3. 1 bagian dariku benar-benar digunakan untuk membuat jalan di kecamatan ini. Dia mengabarkan bahwa walaupun bukan dia satu-satunya yang digunakan untuk membuat jalan karena jutaan batuan yang lain juga digunakan untuk membuat jalan, tetapi dia cukup bahagia. Pasalnya dia merasa bermanfaat untuk makhluk lain yang ada di bumi ini. Dia Merasa selalu mendapatkan perhatian baik dari pemerintah maupun dari masyarakat kalau jalan yang dibuatnya mengalami kerusakan. Bahkan paling tidak 1 minggu sekali ada petugas dari DPU setia membersihkannya.
  • Saya: “Lantas, 1 bagian yang lain kemana?”
  • Batu kecil: “Nah, dia yang paling berbahagia sekarang. Dia ternyata diambil oleh seorang pengrajin cincin di Purworejo ini. Dulu ketika dia kumal, berlepotan tanah tidak ada memperhatikannya sama sekali. Sekarang saat dia menjadi sebuah cincin cantik dan dipakai oleh seorang anggota Dewan, saat itu juga dia sangat dihormati oleh hampir seluruh makhluk di bumi ini. Apalagi diyakini bahwa asal-muasal dia dari langit (meteor) manurut banyak orang mengandung aura positif  bagi siapa saja memakainya. Memang pada awalnya dia selalu merasa disakiti setiap hari. Setiap saat dia digerenda dan digosok. Setiap saat dia juga dipukuli dan dipahat. Namun Sekarang sungguh mulia dia.”
  • Saya:”Sekarang apa yang kamu inginkan?”
  • batu Kecil: “Saya hanya ingin bisa bermanfaat bagi makhluk lain. Jadi jalan gak papa. Syukur bisa jadi cincin yang sangat mulai. Walau harus bersakit-sakit namun saya berharap bisa mulai dikemudian hari. Tidak seperti sekarang ini. Benar saya tidak pernah dipukul dan dipahat, juga tidak pernah digerinda maupun digosok. Namun dengan begitu nasibku memang tidak pernah berubah. Aku tetap merana tanpa seorangpun yang memperhatikan keberadaanku.

Begitu inspiratif wawancaraku kali ini, maka ketika saya harus menyampaikan kata sambutan saya menceritakan hasil wawancaraku itu dengan batu kecil itu. Pelajaran yang bisa kita petik dari wawancara itu adalah:

  1. Kita mungkin dilahirkan sama. Sama-sama suci dan sama-sama mulai tak berdosa. Namun setelah dewasa ternyata mempunyai nasib yang berbeda-beda, sebagaimana 3 pecahan batu tersebut.
  2. Nasib yang berbeda bukan datang begitu saja, semuanya mengalami asbabun nuzul (sebab-sebab). Penyebab nasib kita berbeda ada yang datang dari diri sendiri seperti tidak mau berusaha, tidak mau berubah, maupun tidak mau disakiti. Ada juga penyebab yang datangnya dari luar seperti pengrajin yang memahat kita. Banyak kesempatan yang kita alami untuk didatangi pemahat seperti hari ini tim fasilitator akan memahat anda semua yang kelak akan membuat anda semua menjadi lebih mulia. Semuanya tergantung anda semua, Apakah anda kuat dan memanfaatkan si pemahat untuk menjadikan anda sendiri mulia, ataukah anda tetap berkeming membiarkan diri anda sebagaimana batu yang saya pegang ini.
  3. Gunakan event pelatihan ini untuk menggosok diri anda, sehingga lebih cemerlang di kemudian hari. Gunakan pelatihan ini sebagai gerinda untuk mengasah ketajaman intuisi anda yang akan mengantarkan anda menjadi lebih tajam dikemudian hari.

Selamat berlatih dan sukses selalu

4 Tanggapan

  1. […] kecil: “Itulah yang aku sesali. BACA SELENGKAPNYA 0.000000 […]

  2. Wo……o…. LUAR BIASA……Pak Narto.!!…..Di hari ibu saat ini. satu lagi bertambah referensiku tuk menempa diri.

  3. Oke juga paK NArtO….! Belajar dari banyak peristiwa yang terjadi ternyata lebih tajaaam dari teori yang panjang.

  4. Ya pak nardi, ternyata alam ini banyak memberikan pelajaran hakekat hidup terhadap manusia. tergantung bagaimana kita mau mengerti terhadap pelajaran alam ini atau tidak. Begitukan pak Nardi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: