Paket Pelatihan PAKEM Matematika


Pelatihan PAKEM Matematika (Demonstrasi Menara Hanoi)

Pelatihan PAKEM Matematika (Demonstrasi Menara Hanoi)

Paket Pelatihan PAKEM MATEMATIKA Pembelajaran Matematika dirasakan oleh sebagian besar siswa sebagai mata pelajaran yang paling sulit dan membosankan. Berdasarkan survei yang dilakukan, kebosanan anak-anak untuk mempelajari matematika disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:

  1. Metode pembelajaran yang monoton, yaitu ceramah kemudian diikuti dengan latihan-latihan soal.
  2. Guru matematika cenderung lebih cepat marah melihat siswa yang tidak segera memahami penjelasan guru atau tidak bisa mengerjakan soal latihan.
  3. Persepsi kebanyakan orang yang mengatakan bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit, sehingga mempengaruhi psikologi siswa yang akan belajar.
  4. Teman-teman mereka kebanyakan tidak menyukai pelajaran matematika.

Jika hal tersebut tidak segera dicari solusinya akan sangat merugikan bagi masa depan para siswa tersebut. Karena kita menyadari bahwa hidup di masyarakat tidak bisa terlepas dari kegiatan berhitung. Mulai bangun tidur, jual beli, belanja, memasak dan sebagainya.

Untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan tersebut kami melayani para guru semua untuk berlatih melaksanakan pembelajaran yang aktif, kreatif, menyenangkan namun tetap efektif atau lebih dikenal dengan PAKEM matematika. Dalam pelatihan tersebut akan dikupas secara mendalam tentang hal-hal sebagai berikut:

  1. Hakekat Pembelajaran Matematika
  2. Kurikulum Matematika
  3. Pengembangan Pembelajaran matematika yang PAKEM
  4. Penilaian Pembelajaran Matematika yang otentik
  5. Pengelolaan pembelajaran Matematika
  6. Permainan matematika
  7. membuat RPP Matematika PAKEM.
  8. Alat Peraga Sederhana Matematika

Jika anda ingin meningkatkan kemampuan profesional dalam hal mengajar bisa melihat program pelatihan yang lebih lengkap di SINI atau bisa hubungi kami di sunartombs@gmail.com

6 Tanggapan

  1. pakem matematika

  2. Menurut hemat saya, membuat pelajaran matematika menarik tidak terlalu sulit. Masalahnya, untuk tujuan tersebut, maka konsumsi waktu cukup besar. Siswa tertarik antusias, tapi tidak menjamin mereka mengerti/faham dengan relatif cukup materi pokok untuk bekal mereka diharapkan mampu menyelesaikan/menjawab soal-soal matematika yang dihadapi siswa. Sementara jajaran pendidik dituntut untuk mampu menjadikan siswa sukses menghadapi soal-soal UAN. Ini adalah kondisi yang dilematis yang tidak cukup hanya diatasi dengan tawaran-tawaran metode pembelajaran yang menarik atau semacamnya. Tapi perlu evaluasi mendasar dan menyeluruh terhadap kebijakan dasar pendidikan di negeri kita. Salah satunya tentang urgensi dan signifikansi dari konsep NAIK/TIDAK NAIK dan LULUS/TIDAK LULUS.

  3. Pendapat pak Hamidzul memang benar adanya. Namun ada persepsi yang salah di masyarakat pendidikan kita. Manurut Prof. Mungin Edi (Ketua BNSP) syarat utk dapat lulus sekolah itu ada 3 yang harus dipenuhi:
    1. telah menyelesaikan belajar di satu jenjang pendidikan tertentu (kelas 1-6 utk SD dan kelas 1-3 utk SLTP/SLTA)
    2. Lulus Ujian Sekolah (harapannya adalah full competency)
    3. lulus Ujian Nasional (Standar pemahaman dan teori).
    Namun agaknya syarat no 1 dan 2 dianggap “bisa diatur” walapun kemungkinan besar kompetensinya masih kurang atau sangat kurang. Asalkan Ujian Nasional Lulus syarat lain terutama ujian sekolah bisa “dilewati”.
    Memang ada dilema di sana, ketika tidak ada lagi Ujian Nasional apakah para guru berani bertindak Obyektif dan fair terhadap kinerja mereka sendiri.
    Juga apakah kita juga sudah berani utk menentukan tidak lulus jika Ujian Sekolah tidak lulus (karena kompetensi dan keterampilan siswa kurang)?
    Perlu persamaan pandangan dari semua pihak menyikapi hal tersebut.
    Nah, tawaran metode strategi barangkali merupakan upaya menggunting benang rantai kusutnya permasalahan yg kita hadapi tersebut. Jika para guru sedikit mempunyai tanggung jawab moral utk memberikan komptensi yang benar-benar bermakna bagi hidup anak barangkali akan sedikit memberikan kepercayaan diri bagi anak ketika lulus dan hidup di masyarakat yang sesungguhnya.
    Terima kasih pak atas sharingnya. Dengan senang hati jika lain waktu bisa disambung lagi.

  4. Asslmww alhmdllh….’alamin faslttr menambah wawasan saya sbg gr d MI N Kecandran Sidomukti Salatiga, mg manfaat mtr nwn wasslmww.

  5. Amin 3x

  6. saya tidak setuju dengan pak sunarto,permasalahan utamanya adalah nilai ujian nasional dijadikan salah satu komponen meluluskan siswa , seharusnya dibuat saja seperti dulu sistem nem (nilai ebtanas murni) yg tidak mempengaruhi kelulusan siswa, sehingga siswa akan bisa melihat nilainya dengan murni dan tidak takut tidak lulus jika nilai nemnya jelek…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: