Peningkatan Mutu Sekolah: Guru tua tidak potensi lagi?


“Guru-guru kami sudah tua-tua”.

“Siswanya bodoh-bodoh”

“Orang tuanya miskin-miskin”

“lingkungannya kurang memperhatikan terhadap kemajuan sekolah”,

Strategi Keberhasilan

Strategi Keberhasilan

begitulah antara lain jawaban dari kepala sekolah saat menjawab pertanyaan: “Apa yang menyebabkan sekolah bapak/ Ibu susah maju. Mendapatkan jawaban yang demikian saya lantas berpikir, kenapa mereka selalu menyalahkan faktor yang sebenarnya tidak pernah menjadi penyebab (kambing hitam).

Pada Pelatihan PENINGKATAN MUTU SEKOLAH kali ini saya mengambil inisiatif untuk melakukan sebuah permainan (game) untuk memberikan analogi yang tepat terhadap permasalahan yang mereka hadapi.

Peserta saya bagi menjadi 4 kelompok. Kepada masing-masing kelompok saya berikan sebuah bola pimpong. Dan setiap peserta saya berikan sebuah sedotan minuman. Meraka bertanya, “Barang-barang ini untuk apa pak?”

“Pindahkan bola pimpong tersebut ke meja kelompok lain,” begitu jawab saya. “Dengan ketentuan setiap peserta hanya diperkenankan memegang sebuah sedotan. Mereka tidak boleh menyentuk bola pomping dengan tangan atau benda lain selain sedotan itu sendiri. Diskusikan bagaimana caranya”, kataku mengawali sesi itu.

Kulihat ada yang mencoba meniup-niupnya. Ada yang menyedot bola pimpong itu. Ada pula yang mencoba menyodoknya. Namun yang papling menarik adalah yang dilakukan oleh kelompok-4. Mereka mencoba mengangkan bola pimpong itu secara bersama-sama dengan menggunakan sedotan itu. Usaha mereka sebenarnya hampir saja berhasil. Namun karena salah seorang dari mereka agak kendor dalam memegang sedotan, maka bola pimpong itu jatuh sebelum sampai pada meja kelompok lain.

Melihat hasil dari kelompok 4 yang nyaris berhasil, maka kelompok lainnya terus mencoba dengan cara yang sama sebagaimana yang telah dilakukan kelompok 4. Hebatnya justru kelompok 3 yang berhasil pertama kali, menyusul kelompok 1 dan kelompok 2. Sementara kelompok 4 sampai waktu habis tetap tidak berhasil memindahkan bola pimping walaupun sudah berkali-kali di coba. Kenapa? Mereka kurang kompak.

Dari permainan tersebut kemudian saya menanyakan kepada seluruh peserta, “Apa saja yang harus dilakukan oleh anggota kelompok agar berhasil mencapai tujuan (memindahkan bola pimpong ke meja kelompok lain)?’.

Ternyata jawaban mereka hanya ada 4, yaitu:

1. Harus ada koordinasi

2. Menentukan taktik/ strategi

3. Kerja sama.

4. kekompakan team.

Kemudian saya mengajukan pertanyaan lagi,” Apakah umur seseorang menentukan keberhasilan?’ Dengan serempak mereka menjawab tidak. Memang ternyata kelompok 3 yang pertama kali berhasil kebetulan beranggotakan Kepala Sekolah yang sudah senior-senior. Saya mengajukan pertanyaan lagi, “Apakah kecerdasan menentukan keberhasilan?’ Dengan serempak mereka menjawab tidak. Dan memang  saya melihat anggota kelompok yang cerdas-cerdas berada di kelompok ke-4 dan kelompok ke-2. Bukrinya adalah kelompok 4 yang pertama kali menemukan strategi memindahkan bola pimpong. Dan mengapa justru mereka yang paling berakhir mencapai tujuan? Mungkin karena hanya kurang kompak. Saya ajukan pertanyaan lagi, “Apakah kekayaan menjadi penentu keberhasilan?” Dengan serempak mereka menjawab tidak.

Berdasarkan permainan itu, para kepala sekolah sepakat bahwa untuk mencapai keberhasilan hanya diperlukan 4 hal, yaitu:  (1) Harus ada koordinasi; (2) Menentukan taktik/ strategi; (3) Kerja sama; dan (4) kekompakan team.

Barangkali sekolah mereka miskin karena muridnya sedikit, barangkali sekolah mereka terdiri dari guru-guru yang sudah tua yang sebentar lagi pensiun, atau barangkali sekolah mereka terdiri-dari guru-guru yang kurang pandai. Namun kalau mereka melakukan 4 hal tersebut, semua bisa terjadi, Yaitu sebuah keberhasilan.

Akhirnya pelatihan hari itu saya akhiri lebih cepat, karena pesan penting yang ingin saya sampaikan sudah mereka jawab sendiri dengan senang hati. Otomatis saya anggap pelatihan hari ini sangat efektif.

Satu Tanggapan

  1. Semoga mutu/kualitas pengajar (guru) di negeri ini semakin meningkat. Karena bagaimana pun kalau gurunya berkualitas maka muridnya pun akan berkualitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: