Ice breaking komunikasi

ice breaking komunikasiDalam sebuah organisasi arau institusi komunikasi merupakan hal utama yang harus dijakankan dengan baik. Kesuksesan suatu program akan sangat tergantung dari komunikasi yang efektif dan lancar yang dilakukan oleh para pihak yang tergabung dalam organisasi itu.

Berikut ini adalah sebuah game sekaligus memberikan analogi bagaimana pengaruh komunikasi terhadap pencapaian tujuan organisasi/ institusi. Adapun langkah-langkah game-nya adalah sebagai berikut:

  1. Bentuklah peserta pelatihan menjadi kelompok-kelompok.
  2. Peserta diminta untuk memilih 1 orang yang paling pandai menggambar dan satu orang yang paling cerdas.
  3. Setiap orang yang ditunjuk sebagai ahli menggambar, dipersilahkan maju untuk menggambar sesuatu yang menunjukkan visi atau motivasi kelompok, misalnya menggambar matahari sebagai gambaran bahwa kelompok tersebut akan memberikan pencerahan kepada semua orang yang ada di dunia ini.
  4. Setelah selesai menggambar,  separoh ahli lukis dipersilahkan keluar ruangan. Sedangkan separoh yang lainnya dipersilahkan kembali kekelompok untuk menjelaskan apa makna gambar yang telah mereka buat tersebut.
  5. Bagi anggota kelompok yang ahli lukisnya keluar dimohon untuk memberikan penjelasan apa makna gambar yang telah dibuat oleh ahli lukisnya yang telah keluar ruangan. Orang yang paling cerdas bisa mewakili kelompok untuk menjelaskan gambar tersebut.
  6. Setelah selesai ahli lukis yang berada di luar diminta masuk kembali untuk memberikan penjelasan gambar yang sudah ia buat. Peserta lain dimohon untuk memperhatikan apakah ada kesamaan atau atau perbedaan penjelasan antara ahli lukis dan anggota kelompoknya.
  7. Tiba giliran anggota kelompok yang ahli lukisnya tidak keluar ruangan dan memberikan penjelasan kepada anggota kelompok untuk menunjuk 1 orang mewakili menjelaskan makna gambar yang telah dibuat olah ahli lukisnya.
  8. Setelah itu ahli lukis dimohon juga untuk memberikan penjelasan serupa tentang gambar tersebut.
  9. Peserta lain diminta memperhatikan apakah perbedaan dan kesamaannya.

Pembelajaran:

  1. Bagi kelompok yang sebelumnya tidak ada komunikasi antara anggota kelompok dengan ahli lukis sangat dimungkinkan akan terjadi perbedaan persepsi tentang gambar yang telah dibuat, sekalipun yang menjelaskan adalah oarang yang paling cerdas di dalam kelompok tersebut. Hal tersebut menunjukkan bawah sebagus apapun hasil karya/ prestasi  seseorang kalau tidak dikomunikasikan dengan baik, maka tidak akan bisa dipahami oleh orang lain atau bahkan tidak akan diketahui oleh orang lain.
  2. Bagi kelompok yang sebelumnya telah mendiskusikan/ mengkomunikasikan  terlebih dahulu tentang gambar yang dibuat, bisa dipastikan penjelasan yang diberikan oleh anggota kelompok akan sama atau hampir sama dengan makna gambar yang dimaksud oleh si pembuatnya yaitu si-ahli lukis. Ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang dikomunikasikan akan bisa dipahami oleh orang lain, sehingga makna dan tujuan dari kegiatan tersebut bisa dipahami dan dijalankan oleh semua orang yang ada dalam organisasi tersebut.

Selamat Mencoba !!

Prediksi soal akhir semester 1 mapel PKn SD

Berikut ini adalah soal ulangan umum akhir semester 1 mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan tahun pelajaran 2008/2009. Semoga bermanfaat untuk anak-anak untuk bisa digunakan sebagai bahan belajar menghadapi tes semester 1 tahun pelajaran 2009/2010. Silahkan download soal di bawah ini !

  1. Kelas 4
  2. Kelas 5
  3. Kelas 6

“Siswa belajar ICT bukan untuk jadi ahli ICT”

Seminar Nasional Pendidikan Pemanfaatan komputer untuk pendidikan. Pembahasan tentang pemanfaatan komputer di sekolah menjadi menarik dalam seminar kali ini. Pasalnya banyak sekolah rame-rame membuat laboratorium komputer. Apalagi dengan adanya akreditasi sekolah, bahwa sekolah yang mempunyai lab. komputer akan mendapat nilai baik dalam penilaian akreditasi tersebut. Bahkan tidak jarang sekolah dengan berbagai upaya memaksakan diri untuk mengadakan  komputer di sekolah hanya sekedar untuk gengsi belaka.

Belajar dengan media komputerKomputer yang sudah ada jarang digunakan untuk kegiatan siswa. Kalaupun digunakan hanyalah untuk belajar bagaimana “mengoperasikan” komputer sebagai alat ICT yang tidak tahu kemana arahnya setelah siswa mampu menguasai keterampilan itu.

Dengan membuat jadwal tertentu siswa dapat “kursus komputer” di lab. sekolah. Bukan tidak mungkin bahwa setiap siswa hanya bisa memegang komputer tersebut setiap 2 minggu sekali. Setiap kali “kursus komputer” siswa hanya dapat memperoleh kemanfaatan sebagai operator komputer.

Sangat disayangkan bahwa alat multimedia dengan fasilitas multifungsi tersebut hanya digunakan sebatas pada bagaimana cara mengetik di komputer. Padahal tujuan dari pembelajaran di sekolah adalah bagaimana kita mempersiapkan anak didik dengan berbagai kecakapan dan pengetahuan yang sebenarnya bisa kita peroleh dari komputer tersebut. Anak bisa memperoleh kecakapan untuk kontruksi mesin, anak bisa mengarang lagu, anak bisa membuat design rumah, merancang jembatan dan sebagainya dengan menggunakan komputer.

Paradigma yang sempit dari para guru akan penggunaan komputer hanya berorientasi bagaimana anak bisa syukur ahli mengoperasionalkan komputer. “Itu sangat mubadzir”. Siswa belajar komputer bukan untuk menjadi ahli komputer.

Namun seharusnya mereka belajar berbagai ilmu pengetahuan dan keterampingan dengan menggunakan komputer. Jadi komputer hanya sebagai media untuk mendapatkan berbagi ilmu pengetahuan. Komputer bukan obyek untuk pembelajaran itu sendiri. Bagaimana memanfaatkan komputer untuk pembelajaran silahkan lihat pada artikel saya sebelumnya.

Sistem Kerja otak pada pembelajaran siswa aktif

Mr Vincent P Costa (Provincial Coordinator DBE 2 of Central Java)

Mr Vincent P Costa (Provincial Coordinator DBE 2 of Central Java)

Mengapa proses pembelajaran yang dilakukan harus mengaktifkan siswa. Banyak teori yang mendasari tentang mengapa aktif learning. Berdasarkan teori belajar aktif harus dilakukan karena

Pertama, proses Interaksi (siswa berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan siswa, multi-media, referensi, lingkungan dsb).

Kedua, proses Komunikasi (siswa mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru dan rekan siswa lain melalui cerita, dialog atau melalui simulasi role-play).

Ketiga, proses Refleksi, (siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari, dan apa yang mereka telah lakukan).

Keempat, proses Eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan dan/atau wawancara).

Namun yang lebih penting dari alasan di atas adalah bahwa dengan active learning akan membantu siswa untuk membentuk long term memory (iangatan jangka panjang). Mengapa demikian?

Berikut analisis yang dilakukan oleh Mr. Vincen P Costa (PC DBE 2 Jawa Tengah).

pada pembelajaran konvensional Sel syaraf otak yang menyala hanya sedikit

pada pembelajaran konvensional Sel syaraf otak yang menyala hanya sedikit

Pembelajaran yang tidak melibatkan siswa secara aktif hanya akan memberikan suport kepada otak minimal sekali. Sebab impuls-impuls sel otak yang diaktifkan hanya sedikit. Misalnya ketika guru sedang mengenalkan tentang “apel”. Pada pembelajaran konvensional yang diaktifkan hanyalah beberapa impuls otak yang berkaitan dengan indera pendengaran dan indera penglihatan. sehingga Impuls-impuls lain tidak diaktifkan.

Seluruh sel syaraf otak menyala dalam proses pembelajaran aktif.

Seluruh sel syaraf otak menyala dalam proses pembelajaran aktif.

Sementara itu dalam pembelajaran aktif, impuls-impuls otak siswa bekerja secara optimal dan hampir seluruh syaraf otak yang berkaitan dengan panca indera bisa diaktifkan. Selain melihat siswa juga bisa merasakan buah apel itu rasanya manis atau asam. Kulit buah apel halus atau kasar. Bau buah aple harus atau masam dan sebagainya.

7 Nilai yang diyakini mampu membawa tim berkinerja tinggi

David O'emara (PSEA USAID-DBE2 Jakarta)

David O'meara (PSEA USAID-DBE2 Jakarta)

Bagaimana cara kita bereaksi terhadap sesuatu peristiwa dipengaruhi oleh keyakinan yang kita pegang atau kita percayai. Contohnya, jika saya merasa tidak didukung atau dihargai oleh tim, saya mungkin akan melakukan sesuatu yang dapat mengurangi kesalahan saya.  Sebaliknya jika saya merasa demikian besar didukung oleh tim saya maka saya akan lebih berani dalam mengambil resiko demi tim saya. Berikut dijelaskan oleh David O’emara (PSEA DBE 2 Jakarta) tentang 7 hal yang dapat membangkitkan semangat tinggi untuk bekerja dalam sebuah tim.  Sesi ini disajikan dalam Field Staff Training (FST) DBE 2 Jawa Tengah baru-baru ini (12-16 Oktober 2008)

7 Nilai-nilai Tim yang Berkinerja Tinggi (TBT) / High Performing Teams (HPT) adalah:

1. Jelas dan dapat dipertanggungjawabkan

Setiap anggota tim percaya bahwa mereka masing-masing memiliki peran dan tanggungjawab yang jelas. Setiap anggota tim saling mengetahui di bidang apa mereka dapat diandalkan oleh anggota tim yang lain dan apa yang yang mereka andalkan dari anggota tim yang lain.

2. Kemampuan yang dapat dipercaya

Setiap anggota tim meyakini bahwa seluruh anggota tim saling percaya bahwa mereka mengetahui bagaimana melakukan tugas mereka tanpa harus diawasi.

Sesaat sebelum memberikan sesi pelatihan

Sesaat sebelum memberikan sesi pelatihan

Dalam sebuah tim multidispiliner, ini diartikan sebagai “saya tahu apa yang harus kamu kerjakan dan percaya kamu dapat mengerjakannya – bagaimana kamu mengerjakan itu adalah caramu sendiri”.

3. Memberi dan menerima

Anggota tim percaya bahwa jika mereka memerlukan bantuan mereka dapat meminta pada anggota yang lain  dan bantuan itu akan tulus didapatkan dari anggota tim yang lain.

Mereka percaya bahwa dengan meminta bantuan, sebenarnya meningkatkan keberadaan diantara tim daripada dipermalukan.  Mereka juga percaya bahwa dalam kinerja tim sesuatu berarti kurang baik jika seseorang berusaha sendiri tidak melibatkan orang lain dan tidak meminta bantuan kerjasama orang lain, atau meminta bantuan tetapi diabaikan oleh tim.

4. Transparan secara Total

Setiap anggota tim berharap dalam setiap isu-isu penting dalam tim meskipun tidak secara langsung berpengaruh pada mereka, setiap anggota tim selalu tetap saling jujur dan terbuka. Ini adalah bagian dari dinamika dimana setiap anggota tim percaya bahwa merekalah penentu tim sehingga mereka dapat berkontribusi melebihi fungsi khusus masing-masing.

Mereka juga percaya bahwa mereka dapat secara bebas mengatakan pendapat mereka tentang situasi tertentu yang tidak secara langsung menjadi tanggungjawab mereka dan pendapat ini harus dihormati dan didengarkan.

5. Berbagi Keberhasilan

Anggota tim percaya bahwa mereka adalah satu kesatuan dan bahwa keberhasilan dan kegagalan akan dibagikan dan dirasakan bersama. Seperti semboyan keempat ‘musketeers’ yaitu “Satu untuk semua dan semua untuk satu”.  Mereka tidak percaya bahwa pemimpin akan mengambil bagian yang tidak adil atas kesuksesan tim dan melimpahkan kesalahan pada anggotanya ketika tim mengalami kegagalan. Hal yang perlu digarisbawahi adalah kepercayaan bahwa setiap anggota tim bertanggungjawab tidak saja pada pimpinannya melainkan juga kepada setiap anggota tim yang lain.

6. Misi yang Bernilai

Setiap anggota tim meyakini bahwa misi yang merekatkan mereka dan yang mereka tetapkan bersama adalah tepat, penting dan bernilai.  Mereka percaya bahwa jika mereka berhasil berarti mereka membuat kontribusi mendasar bagi organisasinya atau bahkan mungkin untuk tujuan yang lebih baik lagi.

Jika mereka melihat proyek hanya sebagai ‘bisnis seperti biasa’ atau rutinitas belaka maka motivasi mereka akan turun secara drastic.  Bagian penting dari sini adalah bahwa tugas tidak dianggap remeh, mudah atau “done-it-before”.

Anggota tim juga percaya bahwa mereka satusatunya orang dalam organisasi yang dapat berhasil dalam suatu tugas yang sulit.

7. Optimis untuk mewujudkan Misi Tim

Semua anggota tim percaya bahwa mereka (baik secara sendiri maupun bersama)  akan berhasil mewujugkan misi mereka walau sesulit apapun.

Jawa Tengah telah memiliki 38 fasilitator handal yang siap membantu pemerintah memajukan bidang pendidikan

Wisuda Fasilitator & Trainer Active Learning DBE 2 USAID

Wisuda Fasilitator & Trainer Active Learning DBE 2 USAID

Penobatan 38 fasilitator tingkat provinsi Jawa Tengah pada tanggal 15 Oktober 2009 ditandai dengan wisuda para fasilitator Jateng. Penobatan ini sangat istimewa karena dilakukan dihadapan para stakakeholders baik tingkat provinsi maupun kabupaten. Para undangan yang hadir antara lain dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, LPMP, Universitas mitra se-Jawa Tengah, Dinas Pendidikan Kabupaten/ kota, Bappeda Kabupaten, Kepala UPTD Dinas Pendidikan, dan para stakeholder lainnya.

Pada kesempatan itu Mr. Michel Calvano, Ph.D Pimpinan tertinggi (COP) DBE 2 Indonesia menyampaikan beberapa pesan diantaranya adalah:

Bersama Michel Calvano (COP DBE 2 Jakarta)

Bersama Michel Calvano (COP DBE 2 Jakarta)

  1. DBE 2 telah melakukan banyak pelatihan peningkatan mutu pendidikan di Jawa Tengah. Dan pelatihan tersebut telah dinikmati oleh seluruh guru di daerah binaan DBE 2 di jawa Tengah.
  2. Yang membedakan pelatihan DBE 2 dengan program lainnya adalah adanya pendampingan sampai ke sekolah-sekolah dari setiap program pelatihan yang telah dilakukan.
  3. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa DBE 2 telah membentuk para guru untuk menjadi fasilitator handal yang siap digunakan oleh pemerintah dalam peningkatan mutu pendidikan dalam arti yang lebih luas. Mereka (MTT-Master Trainer Teacher) paling tidak telah berbuat banyak untuk kabupaten/ kota untuk membawa perubahan yang lebih baik pada bidang pendidikan.
  4. Kesiapan para fasilitator yang telah dididik oleh DBE 2 bukan hanya sebagai kewajiban moral DBE 2 untuk regenerasi fasilitator inti, namun lebih dari itu adalah para fasilitator tetap berorientasi pada kualitas personal. Oleh karena itu mereka (fasilitator) diberikan ijazah dengan disertai nilai kompetensi yang tertulis pada sertifikat fasilitator. Daftar nilai tersebut menggambarkan secara riil kapasitas para fasilitator. Tentu ada yang memiliki nilai sangat memuaskan dan juga ada nilai yang dirasakan kurang. Semua itu diberikan sebagai gambaran obyektif kepada pemakai untuk menentukan penilaian secara obyektif kepada para fasilitator.

Akhirnya Mr. Michel Calvano, Ph.D menyerahkan semua potensi yang telah dimiliki Jawa Tengah tersebut kepada semua pengambil kebijakan yang ada. Perlu diketahui bahwa Prestasi jawa tengah selama menjalankan program DBE 2 adalah luar biasa sukses.

Sekolah perlu dipromosikan secara profesional

Andaikan sekolah itu merupakan usaha dagang, maka tidak berlebihan jika dikatakan oleh orang bahwa, “jika kita ingin untung besar, maka dirikanlah sekolah”. Bahkan ada Surat Kabar Kompas pernah mengatakan, “Jika anda ingin kaya, maka dirikanlah sekolah!”. Mengapa bisa demikian?

TOT LMS di demakKita semua tahu bahwa semua sekolah dengan berbagai kondisi selalu laku, dengan bukti selalu ada muridnya. Bahkan sekolah yang dikelola asal-asalan tetep juga ada siswanya, walaupun mungkin jumlahnya sedikit. Apalagi kalau sekolah tersebut dikelola secara profesional, tentu akan sangat laku.

Pengelolaan sekolah yang profesional meliputi berbagai hal, mulai dari managerial sekolah, proses pembelajaran, evaluasi program dan tentu juga marketing. Bagaimana memasarkan sekolah? Inilah yang dibahas dalam TOT Laporan Mutu Sekolah (LMS) di Demak baru-baru saja.

Laporan mutu sekolah (LMS) merupakan salah satu cara untuk memasarkan sekolah. Dalam LMS dilaporkan berbagai informasi tentang sekolah, mulai dari data perkembangan siswa dari tahun-ke tahun, dana operasional sekolah, prestasi sekolah, prestasi guru dan siswa, yang semuanya itu dikemas secara simple dan menarik untuk dibaca.

Selama ini laporan sekolah selalu berupa tabel-tabel keuangan yang disajikan secara formal dan menjemukan. Namun dalam LMS sudah dikemas secara menarik dengan dilengkapi dengan gambar visual dan grafik-grafik full color yang tidak membosankan.  Apakah membuat laporan yang lengkap dengan gambar visual sulit?

Jawabannya tidak-tidak-tidak. Dalam pelatihan LMS semua data sebenarnya dinput secara manual dalam program exel. Data-data yang kita masukkan berupa angka-angka kuantitatif yang akan diolah secara otomatis oleh program exel yang sudah dicustom program oleh DBE sehingga output data sudah berupa gambar-gambar visual yang sangat menarik dan mudah dibaca.

Prediksi soal Ulangan Umum semester 1 Bahasa Jawa untuk SD

Setelah lama saya mencari bank soal Bahasa Jawa di Internet tak pernah aku temukan, sekarang saya mencoba sendiri untuk sekedar berbagi tentang prediksi soal Ulangan Umum Bahasa Jawa untuk Sekolah dasar. Sehubungan soal adalah format jpg yang saya simpan di picasa, maka cara mendownload adalah sebagai berikut:

  • Silahkan klik kelas yang diinginkan nanti akan mengantarkan anda pada halaman picasa.
  • setelah nampak dokumen soal dalam bentuk yang kecil-kecil silahkan di klik kanan dan lakukan save emage as.
  • Selamat mencoba !

Berikut ini adalah daftar-daftar soalnya:

  1. Kelas 6
  2. Kelas 5
  3. Kelas 4
  4. Kelas 3

TOT Field Staff

TOT Field Staff

TOT Field Staff

Untuk mempersiapkan staff lapangan baru-baru ini dilaksanakan TOT untuk para staff lapangan yang terdiri dari DLC (District Learning Coordinator). Dalam TOT kali ini dilatihkan berbagai keterampilan yang perlu dikuasai oleh para staff lapangan, antara lain:

  1. Apa itu membaca
  2. Bahasa Holistik
  3. Guru sebagai penutur cerita
  4. Menggunakan Buku besar
  5. APM Bahasa
  6. Pendampingan (5 langkah)
  7. Perbedaan pendampingan dengan supervisi
  8. Pendampingan on line
  9. Keterampilan motorik
  10. Membangun komunitas belajar
  11. Potensi gugus
  12. Ning
  13. Praktik pembelajaran tematik
  14. Sinkronisasi program DBE 2 dengan Dinas Pendidikan.

Seluruh materi tersebut akan digunakan untuk melatih para tenaga pendidikan di kabupaten yang terdiri dari:

  1. Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga.
  2. Kasi mapenda departemen Agama
  3. Kepala Sekolah
  4. Pemandu Bidang Studi
  5. Pengurus gugus.
  6. LPMP
  7. Dosen Perguruan Tinggi

TOT (Training of Trainers) Pendampingan belajar aktif

Baru-baru ini saya memberikan pelatihan pada TOT Pendampingan Belajar aktif di Yogyakarta. Pelatihan ini diikuti oleh para Pengawas dan para Pemandu Bidang studi (PBS) dari Provinsi Jawa Tengah.

Pelatihan Pendapingan Pembelajaran aktif

Pelatihan Pendapingan Pembelajaran aktif

Mengapa para Pengawas dan PBS yang menjadi peserta dalam pelatihan tersebut? Ya, Karena merekalah yang akan bertugas menjadi pendamping (supervisor) bagi para guru yang ada di sekolah-sekolah. Pengawas bertugas untuk memonitoring pelaksanaan tugas guru. Sedangkan PBS berkewajiban untuk memberikan bantuan profesional bagi para guru yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas pembelajaran.

Dalam pelatihan ini ditekankan bagaimana mengurai berbagai masalah yang dihadapi guru pada saat proses pembelajaran. Dalam pelatihan tersebut teridentifikasi berbagai permasalahan guru pada saat pembelajaran sebagai berikut:

  1. Rencana Pembelajaran
  2. Skenario pembelajaran yang bisa mengaktifkan siswa
  3. Membuat instrumen penilaian yang tepat untuk masing-masing Kompetensi dasar.
  4. Membuat alat peraga sendiri
  5. Model-model pembelajaran tematik
  6. dan juga bagaimana memberikan bantuan profesional yang tepat untuk guru.