Kisi-kisi Ujian Nasional Untuk Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2014-2015


BSNPTeman-teman guru yang saya cintai, mengakhiri semester 1 tahun pelajaran 2014/2015 ini kita sama-sama akan melaksanakan UAS pada tanggal 8 s.d 13 Desember 2014. Dengan segala hiruk-pikuk dan kebingungan dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 bagaimanapun proses pembelajaran tetap harus terus berlangsung. Anak didik tidak boleh berhenti belajar apalagi sampai terlantar.

Khusus guru kelas 6 yang masih menerapkan kurikulum 2006 atau orang lebih kenal dengan nama KTSP, nampaknya tahun 2015 adalah tahun terakhir berlakukanya kurikulum tersebut. Namun demikian, Ujian Sekolah tetap sebagai prosedur wajib yang harus dilakui oleh seluruh anak didik di seantero Indonesia ini. Oleh karena itu supaya persiapan US/M tahun pelajaran ini tidak mengecewakan ada baiknya segera kita persiapkan sedini mungkin.

apa yang harus dipersiapkan oleh teman-teman guru sekalian?

saya selalu mengingatkan bahwa persiapkan yang harus dilakukan oleh guru terhadap anak didik antara lain:

  1. Persiapkan mental anak, bahwa US/M bukanlah hal yang menakutkan. US/M adalah hal yang wajar dan semua orang harus melalui proses itu, baik anak kecil maupun orang dewasa.
  2. Ciptakan pembelajaran yang menarik mulai sekarang, sehingga anak menjadi lebih betah di sekolah. Tambahan pelajaran (les) silahkan dilakukan, tetapi kegiatannya jangan melulu mengerjakan soal, alangkah lebih baiknya diselingi dengan game/ permainan. Syukur permainan tsb adalah permainan yang berhubungan dengan materi ujian.
  3. Ajarkan MATERI UJIAN BUKAN CONTOH SOAL UJIAN. Sebab kalau itu dilakukan, saat anak menjumpai soal yang berbeda dengan yang dicontohkan oleh guru, maka otomatis siswa tidak bisa menjawab soal tersebut. Namun Jika yang diajarkan adalah materi soal (walaupun hanya ringkasan), ketika muncul soal yang belum pernah diajarkan siswa tetap masih bisa berfikir untuk menjawab soal tersebut dengan benar.

Untuk membantu lebih mengarahkan pembelajaran siswa kelas 6 dalam menghadapi US/M, berikut saya lampirkan:

  1. KRITERIA KELULUSAN PESERTA DIDIK TAPEL 2014-2015
  2. KISI-KISI US/M UNTUK SD/MI TAHUN PELAJARAN 2014/2015.

Mencari Format Pembelajaran Karakter yang Tepat


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan sepanjang 2013 telah terjadi peningkatan jumlah perkara korupsi. Dari 49 perkara yang ditangani pada 2012, tahun 2013 meningkat hampir dua kali lipat menjadi 70 perkara. Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) melaporkan bahwa  tawuran pelajar terus meningkatkan sampai 40%. Pada tahun 2013 Total kasus tawuran pelajar di seluruh Indonesia mencapai 255 kasus dengan total tewas 20 orang.

Penelitian Komnas Perlindungan Anak (KPAI) di 33 Provinsi pada bulan Januari-Juni 2008 sangat mencengangkan. Berdasarkan penelitian disimpulkan  empat hal: Pertama 97% remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno; Kedua  93,7% remaja SMP dan SMA pernah ciuman, genital stimulation (meraba alat kelamin) dan oral seks; Ketiga, 62,7% remaja SMP tidak perawan; keempat yang terakhir, 21,2% remaja mengaku pernah aborsi.

Melihat data-data di atas tentu kita sebagai bangsa yang terkenal dengan budaya ketimuran yang identik dengan sopan-santun, religius, berbudi pekerti dan berkarakter tentu sangat prihatin dengan kondisi ini. Mengapa generasi bangsa ini begitu mudah kehilangan jatidiri, abmoral, dan semakin menjauh dari peradaban. Dimanakan karakter bangsa yang terkenal “adiluhung” ? Mengapa demikian cepat menghilang dari negeri ini, baik dari kalangan orang dewasa maupun dari remaja dan anak-anak.

Sadar akan kondisi yang kritis ini pemerintah serta merta menyiapkan berbagai strategi untuk memperbaiki tragedi moral ini. Salah satu upaya yang diandalkan untuk mengatasi krisis moral ini adalah pembenahan proses pendidikan di sekolah.

 

Apa karakter itu?

Banyak pengertian karakter menurut para ahli, namun pada dasarnya hampir sama substansinya. Pengertian tentang karakter yang paling mudah dimengerti adalah menurut Suyanto  dan Kertajaya. Menurut Suyanto (2009) karekter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara. Kertajaya (2010) menjelaskan bahwa Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu.

Dari definisi di atas suatu benda atau individu dikatakan memiliki karakter jika memiliki beberapa syarat, antara lain:

  1. Memiliki ciri khas yang dapat membedakan dengan individu lain (unik).
  2. Keunikan / ciri khas itu asli dan mengakar (mendarah daging).
  3. Tidak mudah terpengaruh oleh kondisi di luar indinvidu
  4. Orang lain mengetahui dan bisa membedakan individu yang memiliki karakter tersebut.

Contoh sederhana dalam memahami karakter adalah sebagai berikut: Di dunia ini banyak sekali jenis kayu. Semua kayu mempunyai ciri-ciri yang sama, yaitu: berasal dari tumbuhan, keras, dan mudah terbakar. Namun di dunia ini banyak sekali jenis kayu yang berbeda satu dengan lainnya. Ada kayu jati, kayu mahoni, kayu kalimantan, kayu tahun, kayu glugu dan sebagainya. Semua jenis kayu tersebut mempunyai karakter masing-masing  yang membedakan satu sama lainnya. Misalnya kayu jati memiliki karakter yang berbeda dengan kayu kalimantan, kayu tahun dan kayu-kayu lainnya. Kayu jati memiliki karakter keras, berserat halus, dan  tidak mudah lapuk. Karakter kayu jati itu dapat dibedakan dengan tegas dengan karakter yang dimiliki oleh kayu-kayu lainnya.

Begitu pula dengan individu (perorangan) atau kumpulan individu (masyarakat/ bangsa). Ir. Soekarno memiliki karakter  yang: tegas, berani, pandai berorasi, dan romantis. Bagitu pula dengan Soeharto tentu memiliki karakter yang berbeda dengan yang lainnya seperti: tegas, murah senyum, wibawa, tekstual dan sebagainya.

Dalam skala yang lebih luas bangsa Indonesia tentu mempunyai karakter yang berbeda dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sejak tahun 2011 menetapkan 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter, yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, dan tanggung jawab.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah ke-18 karakter tersebut sudah dimiliki bangsa Indonesia yang sudah mendarah-daging sehingga sudah menjadi karakter bangsa ataukah baru merupakan cita-cita yang akan dicapai? Kalau ke-18 karakter tersebut sudah merupakan “identitas” bangsa Indonesia tentu pembelajaran di sekolah menjadi ringan, karena hanya menguatkan dan memperjelas apa yang sudah terjadi di liangkungan keluarga ataupun lingkungan masyarakat.

Tetapi seandainya ke-18 karakter tersebut baru merupakan cita-cita, tentu tugas sekolah amatlah berat. Pendidikan karakter tidak bisa hanya oleh sekolah, tetapi pendidikan karakter harus terjadi pada anak sejak bangun tidur sampai tidur lagi melalui pembiasaan. Pendidikan karakter akan dimulai dari merapikan tempat, antri masuk kamar mandi, tepat waktu masuk sekolah, tidak buang sampah sembarangan di sekolah, sopan terhadap orang tua, menghargai pendapat teman, dan seterusnya sampai tertib solat  dan berdoa ketika akan tidur.

Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal. Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Di antara metode pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan,  metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman.

 

Model-model Pendidikan Karakter di Sekolah

Pendidikan karakter cukup mudah dibicarakan tetapi ternyata amat sulit diimplementasikan di sekolah. Bahkan sampai saat ini tidak ada satu metode pun yang terbukti dilaksanakan secara efektif di sekolah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebenarnya telah menetapkan beberapa panduan dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah.

Pada awalnya pendidikan karakter dulu diajarkan secara tersendiri terpisah dengan mata pelajaran yang lain dengan mengajarkan diberi label Mata pelajaran Budi Pekerti.  Setiap minggu selama 2 jam pelajaran di sekolah diajarkan pelajaran budi pekerti. Materi pelajaran budi pekerti hampir mirip dengan Pendidikan Moral yang meliputi: tata cara pergaulan, tata cara berlalulintas, tata cara makan bersama, tata krama di tempat umum dan sebagainya. Namun akhirnya pelajaran Budi Pekerti ini menuai banyak masalah, utamanya berkaitan dengan hasil pembelajaran. Karena merupakan mata pelajaran tersendiri yang diajarkan selama 2 jam pelajaran setiap minggunya, maka konsekwensinya adalah 5 hari pelajaran yang lain tidak ada “budi pekerti” yang seharusnya dilakukan setiap hari. Selain itu konsekwensi dari sebuah mata pelajaran adalah adanya tes hasil belajar yang berupa tes tertulis. Akibatnya pelajaran budi pekerti hanyalah menjadi semacam pelajaran PKn, yang bisa diteorikan tetapi tidak dilaksanakan sepenuhnya oleh siswa. Siswa mengetahui bahwa hal-hal ini baik untuk dilakukan dan hal-hal itu tidak baik untuk dilakukan tetapi mereka tidak melaksanakannya. Toh asalkan mereka sudah tahu dan dapat menjawab soal, nilai mereka tetap baik walaupun mereka tidak mengamalkannya.

Pada tahapan berikutnya skema pendidikan karakter menyatu dengan mata pelajaran yang lainnya. Kemudian diadakan berbagai pelatihan mengajar dengan menerapkan pendidikan karakter di dalamnya. Pelatihan membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pelajaran) menjadi tranding topik yang menyita semua lembaga pelatihan pendidikan. Akhirnya muncul istilah adanya “RPP berkarakter” yang membedakan dengan RPP sebelumnya. Dalam RPP ini guru diharapkan menuliskan karakter apa saja yang akan ditanamkan ke dalam jiwa anak pada saat dilaksanakan pembelajaran di dalam kelas. Begitu hebohnya trand ini sehingga justru melupakan substansi pendidikan karakter itu sendiri. Guru, Kepala Sekolah sampai Pengawas Sekolah lebih fokus mencurahkan perhatiannya kepada “format RPP Berkarakter”. Mereka tidak lagi memperhatikan dengan serius implementasi pendidikan karakter yang sebenarnya di kelas. Asalkan di dalam RPP sudah tersurat dengan benar, maka “lunas” sudah kewajiban guru dalam pendidikan karakter.

Akhirnya sekarang pendidikan karakter menyatu padu dengan kurikulum 2013. Artinya di dalam kurikulum 2013 ini sudah didesign sedemikian rupa sehingga diharapkan pendidikan karakter dapat dilaksanakan dengan sesungguhnya. Dalam kurikulum ini dirancang bagaimana menanamkan 4 kompetensi sekaligus, yaitu: KI 1 (Sikap Spiritual), KI 2 (Sikap Sosial), KI 3 (Pengetahuan) dan KI 4 (Keterampilan). Terlihat jelas bahwa KI 1 dan KI 2 adalah upaya kurikulum dalam menanamkan karakter pada anak didik. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana agar pendidikan karakter tersebut  benar-benar tertanam dalam di dalam hati sanubari peserta didik? Akankah pelaksanaan pelajaran seperti biasanya bisa membuat peserta didik berkarakter? Ini perlu dijawab oleh para pendidik semuanya.

Penulis masih sependapat bahwa metode pendidikan karakter tetap menggunakan metode keteladananmetode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman. Namun demikian ke-3 metode tersebut haruslah dikemas dengan menggunakan strategi dan program yang tepat. Ke-18 nilai karakter yang ditetapkan oleh Balitbang Kemdikbud tidak akan tercapai jika tidak dilakukan penjadwalan dan penetapan berbagai bentuk kegiatan yang jelas. Guru saja tidak hafal akan ke-18 nilai karakter tersebut, apalagi peserta didik untuk melaksanakannya.

Penanaman nilai karakter haruslah dilakukan secara bertahap dengan intensitas yang dalam. Misalnya pada 3 bulan pertama siswa masuk sekolah, nilai yang ditanamkan hanyalah “disiplin” saja. Nilai karakter yang lain belum akan diprioritaskan untuk mendapatkan perhatian. Pada 3 bulan pertama tersebut seluruh komponen sekolah haruslah bersikap disiplin. Mulai dari Kepala Sekolah, guru, tata usaha, siswa dan bahkan penjaga sekolah sekalipun. Semua lingkungan dibuat supaya pelaksanaan sikap disiplin dapat terlaksana secara kondusif, misalnya dengan memasang poster-poster tentang kedisiplinan, memasang bel otomatis, adanya hukuman yang tegas, semua komponen sekolah bersikap sama untuk disiplin dan sebagainya. Setelah sikap disiplin tersebut sudah mapan benar, baru kemudian ditambahkan dengan sikap kepribadian yang lainnya misalnya “kerja keras”. Hal ini juga dilakukan selama beberapa bulan berikutnya sebagaimana pada saat penanaman disiplin. Semua komponen sekolah harus menunjukkan sikap kerja keras mulai dari Kepala Sekolah sampai dengan penjaga sekolah. Bedanya pada tahapan ini sikap disiplin tetap terus dilaksanakan sebagaimana biasanya pada 3 bulan pertama. Demikian seterusnya sampai seluruh nilai kepribadian dapat dilaksanakan secara mantap.

Saran penulis adalah mungkin sekolah tidaklah harus melaksanakan ke-18 karakter tersebut, selain sulit mengaturnya sebenarnya banyak nilai-nilai karakter yang dituliskan tersebut akan tercapai dengan sendirinya jika karakter sebelumnya tercapai. Sebagai contoh jika sikap spiritual, disiplin, kerja keras dan suka menolong tercapai maka kemungkinan besar sikap-sikap seperti tanggung jawab, kerja keras, toleransi, demokratis, ingin tahu dan sebagainya akan tercapai dengan sendirinya.

JADWAL UJIAN SEKOLAH DASAR/ MADRASAH 2014


Teman guru yang berbahagia berikut ini saya sajikan jadwal Ujian Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah tahun 2013/2014.
Dengan hadirnya jadwal ini berarti tidak ada keraguan lagi bahwa Ujian sekolah untuk 3 mapel (Matematika, IPA dan Bahasa Indonesia) bukanlah rangkaian yg berbeda dengan mapel-mapel lain. Namun demikian perlakuan US untuk 3 mapel mirip dengan UN pada tahun sebelumnya, yaitu: soal dibuat oleh provinsi, pengawasan silang murni, dsb.

JADWAL US SD-MI 2014

atau silahkan download di sini JADWAL UJIAN SEKOLAH DASAR 2014

Tabel Nilai Angka Kredit Guru 2013 (terbaru)


pakDengan diberlakukannya Kepmenpan dan  Reformasi Birokrasi  Nomor 16 tahun 2009 tertanggal  10 Nopember 2009, tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, maka secara otomatis nilai angka kredit guru juga mengalami perubahan. Yang sangat mencolok adalah pada nilai proses pembelajaran. Kalau dulu (Kepmenpan nomor : 84/1993 tanggal 24 Desember 1993 tentang:  Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya) nilai proses pembelajaran sudah ada tebelnya dalam setiap semester, maka yang akan datang kita menggunakan dasar penilaian proses pembelajaran dengan mendasarkan pada Penilaian Kinerja Guru terlebih dahulu. Dengan demikian perolehan nilai PBM dalam setiap tahun untuk masing-masing guru sangat mungkin akan berbeda-beda. Sementara berdasarkan peraturan lama setiap guru dalam 1 tahun  melaksanakan proses pembelajaran kebanyakan akan seragam, karena pada peraturan lama nilai tidak memperhatikan performen guru dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.

Berapa nilai angka kredit guru untuk masing-masing komponen? Dalam buku 4 Pedoman PKB dan Angka Kreditnya secara lengkap sudah tercantum, walaupun tersebar dan tidak praktis. Bagi teman-teman guru yang menghendaki tabel angka kredit yang baru dan sudah diringkas dalam sebuah tabel silahkan DOWNLOAD DI SINI SAJA. Semoga bermanfaat !

Perbedaan Kenaikan Jabatan fungsional Guru antara KepmenPan No 84 Tahun 1993 dengan Kepmenpan No 16 tahun 2009.


Guru sebagai jabatan profesional diwajibkan untuk menunjukkan kinerja yang profesional sesuai dengan Keppres Nomor 87 Tahun 1999. Dan jabatan profesional yang belum menyesuaikan dengan kepres tersebut adalah Jabatan Fungsional Guru. Selain itu berdasarkan Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 jabatan guru akan menjadikan Jabatan fungsional Guru sebagai Jabatan Ahli. Guru sebagai tenaga profesional wajib memiliki kualifikasi akademik minimal S-1/D-IV.

Dengan begitu maka Jabatan guru adalah jabatan yang prestisius dan menuntut kemampuan kerja yang tinggi. Oleh karena dalam rangkang meningkatkan profesionlisme guru dengan sistem kenaikan pangkat guru berdasarkan kepmenpan no 84 tahun 1993 masih dijumpai banyak kelemahan maka, sistem kenaikan pangkat dengan angka kredit tersebut disempurnakan dengan kepmenpan no 16 tahun 2009.

Perbedaan Kenaikan Jabatan fungsional Guru antara KepmenPan No 84 Tahun 1993 dengan Kepmenpan No 16 tahun 2009.

NO

ASPEK

PERATURAN LAMA

PERATURAN BARU

1 Dasar Kepmenpan No 84 tahun 1993 Kepmenpan No 16 tahun 2009
2 Sebutan Unsur Utama Minimal 80%

  • Pendidikan dan Pelatihan
  • Proses Belajar Mengajar
  • Pengembangan Profesi

Penunjang maksimal 20 %

Unsur Utama Minimal 90%

  • Pend. Formal dan Pend. Fungsional.
  • Proses Belajar Mengajar
  • Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Penunjang maksimal 10%

 

3 Macam Pengembangan Profesi Guru
  1. Karya Tulis Ilmiah
  2. Teknologi Tepat guna
  3. Alat Peraga
  4. Karya Seni
  5. Pengembangan Kurikulum
  6. Pengembangan diri
  7. Publikasi ilmiah
  8. Karya Inovasi
4 Jenis Pengembangan diri (Tidak ada)
  1. Diklat Fungsional
  2. Kegiatan Kolektif Guru
5 Macam  Publikasi Ilmiah
  1. KTI hasil penelitian
  2. Tinjuan Ilmiah
  3. Tulisan Ilmiah Popoler
  4. Prasaran Ilmiah
  5. Buku/Modul
  6. Diktat
  7. Karya Terjemahan

 

  1. presentasi di forum ilmiah
  2. hasil penelitian
  3. tinjauan ilmiah
  4. tulisan ilmiah populer
  5. artikel ilmiah
  6. buku pelajaran
  7. modul/diktat
  8. buku dalam bidang pendidikan
  9. karya terjemahan
  10. bukupedoman guru

 

6 Macam Karya Inovasi
  1. Teknologi Tepatguna
  2. Alat Peraga
  3. Karya Seni
  4. Pengembangan Kurikulum

 

  1. menemukan teknologi tetap guna
  2. menemukan/menciptakan karya seni
  3. membuat/memodifikasi alat pelajaran
  4. mengikuti pengembangan penyusunan standar . pedoman.,  soal dan sejenisnya

 

7 Prasayarat dalam kenaikan golongan Wajib sebagai syarat kenaikan pangkat/golongan VIa ke atas dengan minimal jumlah angka kredit 12.  Wajib sebagai syarat kenaikan pangkat/golongan IIIb ke atas dengan minimal jumlah angka kredit  yang bervariasi berdasar jenjang pangkat/golongannya. 
8 Teknik Penilaian Penilaian lebih banyak administratif Menggunakan teknik penilaian kinerja (Praktik)
9 Sistem Pengajuan PAK Diajukan pada saat guru/ KS/ PS ingin mengajukan kenaikan pangkat. Diajukan setiap tahun.

 

Penyesuaian Jabatan Fungsional Guru


Menjelang diterapkannya Peraturan menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya (yang baru), maka diperlukan penyesuaian Jabatan Fungsional Guru. Kenapa harus disesuaikan? ya, karena dalam Menpan No 16 Tahun 2009 ini klausul item-item yang dinilai sudah berbeda dengan peraturan lama yang tertuang dalam Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala badan Administrasi Kepegawaian Nasional Nomor 25 tahun 1993.

Dulu peraturan lama misalnya semua nilai Pendidikan dan Pelatihan Kedinasan masuk dalam komponen Nilai Pendidikan, sedangkan sekarang yang termasuk dalam Nilai Pendidikan hanyalah Prajabatan saja. Sementara nilai pendidikan dan pelatihan guru non-prajabatan sekarang dimasukkan dalam komponen Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)  khususnya unsur Pengembangan Diri.

Masalah sebutan dalam Jenjang Jabatan Fungsional Guru dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi (yang baru) hanya dipisahkan dalam 4 jenjang saja, yaitu:  Guru Pertama,  Guru Muda,  Guru Madya,dan Guru Utama. Dalam peraturan lama dibedakan dalam 13 jenjang Jabatan Fungsional Guru yaitu:  1) Guru Pratama, 2) Guru Muda, 3) Guru Muda Tk.I, 4) Guru Madya, 5)Guru Madya Tk.I, 6) Guru Dewasa, 7) Guru Dewasa Tk.I, 8) Guru Pembina, 9) Guru Pembina Tk.I, 9)Guru Utama Muda, 12)Guru Utama Madya, 13)Guru Utama

Bagaimana tata cara pengajuan dan syarat-syarat penyesuaian Jabatan fungsional guru selengkapnya SILAHKAN DOWNLOAD DI SINI.

CARA MENINGKATKAN KREATIVITAS GURU


20130317_163826

Para Guru kreatif

Mendengar kata-kata kreatif tentu kita membayangkan sebuah pemikiran yang luar biasa yang muncul secara luar biasa pula. Sering kita membayangkan bahwa berfikir kreatif itu adalah bawaan sejak lahir atau bakat alam yang telah diberikan oleh Tuhan. Sehingga orang biasa tidaklah mungkin memiliki suatu kreativitas. Selain itu, masih kuatnya pandangan negatif orangtua terhadap prospek pekerjaan di industri kreatif (misalnya film, sastra, atau desain grafis) juga membuat banyak anak muda merasa kemampuan kreatif hanya pantas didalami oleh orang-orang tertentu saja

Anggapan tersebut tentunya tidaklah benar. Karena kreativitas tidak selamanya berhubungan dengan tingkat IQ seseorang, namun juga sangat tergantung dari usaha seseorang tersebut dalam mencoba atau bekerja. Banyak ahli psikologi justru mengatakan bawah kreativitas itu bukan muncul dari intusi-intusi orang-orang cerdas ber-IQ tinggi, namun lebih banyak muncul dari orang-orang yang bekerja keras. Thomas Alfa Edison misalnya, ia menegaskan bahawa kreativitas itu 1% inspirasi dan 99% itu kerja keras.

Sejalan dengan hal tersebut Psikolog John Houtzmengatakan bahwa kreativitas tidak terbatas pada kreativitas besar (big ‘C’) yang sifatnya mahakarya dan revolusioner, seperti lukisan Da Vinci atau lampu Edison. Ada pula yang namanya kreativitas kecil (litle ‘c’), yaitu kelihaian atau kecerdikan yang dapat kita gunakan untuk memecahkan masalah sehari-hari. Houtz juga menekankan bahwa kreativitas bukanlah suatu bakat yang dianugerahkan sejak lahir, melainkan sesuatu yang harus diusahakan dengan kerja keras; Menurutnya, orang-orang kreatif adalah mereka yang memiliki kedisiplinan untuk terus menciptakan ide-ide baru dan ketekunan untuk mewujudkan ide-ide mereka.

Mengenai kreativitas ini pada tahun 2008 lalu Majalah Scientific American Mind Edisi bulan Juni-Juli  menurunkan liputan mengenai diskusi panel para ahli yang membahas mengenai kreativitas ini, berikut beberapa tips sederhana untuk mengembangkan kreativitas anda. Dalam diskusi panel itu Robert Epstein seorang psikolog dari Amerika memberikan empat tips cara untuk melatih kreativitas kita, yaitu:

A.   Capturing.

Jangan biarkan ide satupun yang terlewatkan, manusia mempunyai sifat pelupa. Dari itu biasakan diri untuk mencatat. Mencatat Ketika ada ide terlintas di pikiran Anda, catatlah di HP, atau kalau Kita sedang di tempat kerja tulislah di buku penting. Membawa HP ketempat tidur adalah cara cerdas agar ide-ide Kita tidak hilang begitu saja. Ketika akan tidur atau setelah tidur, otak dalam kondisi gelombang theta, waktu ini sangat berpotensi timbulnya ide-ide kreatif. Sangat baik sekali, Kita meluangkan waktu barang 15 menit  tiap hari cukup duduk santai atau melakukan aktivitas kesukaan Kita untuk mengumpulkan ide-ide dan membawa catatan. Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: